Thursday, 15 November 2018

Tayangkan Cerita Tentang Negara Korut

Peretas Korea Utara Serang Perusahaan Televisi Inggris

Selasa, 17 Oktober 2017 — 13:21 WIB
Peretas Korea Utara

INGGRIS Р Perusahaan televisi Inggris yang menayangkan drama tentang negara Korea Utara mendapat serangan siber dari para peretas negara Korea Utara.

Serial yang ditulis oleh seorang penulis skenario nominasi Oscar ini untuk sementara ditangguhkan pembuatannya.

Pada bulan Agustus 2014, saluran televisi Channel 4 mengumumkan apa yang dikatakannya sebagai sebuah serial drama baru yang ‘berani dan provokatif.’

Drama berjudul Opposite Number, menceritakan tentang seorang ilmuwan nuklir Inggris yang dipenjara di Korea Utara.

Namun perangkat komputer milik perusahaan Mammoth Screen yang terlibat dalam produksi film itu kemudian mendapat serangan siber.

Proyek pembuatan film ini masih mandek karena pihak perusahaan gagal menggalang dana, kata perusahaan itu.

Para pejabat Korea Utara menanggapi dengan marah saat pertama kali rincian serial televisi itu diungkap. Pyongyang menggambarkan alur film tersebut sebagai sebuah ‘lelucon fitnah’ dan meminta pemerintah Inggris untuk mencegah pembuatan serial tersebut untuk menghindari tercederainya hubungan kedua negara.

Ternyata Korea Utara melakukan tindakan lebih dari sekedar protes, dengan meretas jaringan komputer perusahaan yang berada di belakang pembuatan film tersebut.

Insiden ini pertama kali dilaporkan oleh harian New York Times, yang menyebut bahwa Channel 4 adalah korban serangan itu, namun BBC mendapati bahwa target yang disasar para peretas itu sebenarnya adalah Mammoth Screen.

Serangan tersebut tidak menimbulkan kerusakan, namun kemunculan para peretas Korea Utara dalam sistem tersebut menimbulkan kekhawatiran luas mengenai apa yang mungkin mereka lakukan.

“Mereka kewalahan,” kata seorang eksekutif televisi dari perusahaan lain kepada BBC, saat menjelaskan kekhawatirannya.

Intelijen Inggris juga telah mengetahui akan serangan tersebut.

Kekhawatiran semakin bertambah, karena Sony Pictures pernah mengalami serangan siber berat pada bulan November 2014.

Sebuah kelompok yang menamakan diri Guardian of Peace mengklaim bahwa mereka berada di belakang aksi peretasan tersebut, namun para petinggi AS mengatakan mereka yakin Korea Utara lah yang bertanggung jawab.

Serangan itu juga merupakan aksi balas dendam terhadap rencana penayangan sebuah film berjudul The Interview, sebuah drama komedi yang mengisahkan pemimpin Korea Utara yang terbunuh.

Para peretas bukan hanya mencuri dan mempublikasikan e-mail studio film tersebut, namun mereka juga menghancurkan sebagian besar jaringan komputer tersebut. Film ini pun akhirnya dirilis secara online di tengah kekhawatiran berbagai bioskop untuk menayangkannya karena berbagai ancaman.

Insiden itu juga mendapat reaksi keras dari Gedung Putih, termasuk presiden Obama yang kemudian menjatuhkan sanksi terhadap Korea Utara.

Sejauh ini pemerintah Inggris tidak menunjukkan kekhawatiran seperti AS, meski para pejabatnya telah mengetahui bahwa salah satu perusahaan Inggris juga menjadi sasaran – walaupun dampaknya tidak sama seperti yang dialami Sony Pictures.(Tri/BBC)