Saturday, 25 November 2017

OTT Itu Sebenarnya Apa Sih?

Sabtu, 21 Oktober 2017 — 6:29 WIB
gaaaaje

Oleh S. Saiful Rahim
KETIKA mendengar salam Dul Karung, hampir semua orang yang ada di warung kopi Mas Wargo mengalihkan pandangan mereka ke pintu masuk.

“Nah, ini dia orangnya. Mari kita dengar pandangannya,” kata seorang yang turut memandang ke pintu masuk, menyambut kedatangan Dul Karung dengan antusias.

“Apa yang telah terjadi di warung ini, Mas? Kok ada yang ingin tahu pandanganku?” tanya Dul Karung kepada pemilik warung.

“Ketahuilah hadirin semua, pandangan Dul Karung selalu ke depan. Tidak jelalatan seperti maling jemuran,” sambung Dul Karung seraya berusaha menatap wajah seluruh hadiran.

“Tadi. Sebelum kau datang, kami berbicara banyak tentang Pak Gubernur kita yang baru, yaitu Pak Anies dan pasangan beliau Pak Sandi. Berbagai pendapat telah berhamburan dari mulut kami. Nah sekarang giliran kami ingin tahu bagaimana pendapat kau, seorang pribumi Jakarta, tentang Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru itu?” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang dengan gaya persis penjual obat kakilima tahun 1950-an.

“Pertama-tama, dengan amat sangat aku minta jangan sekali-kali menyebut aku pribumi Jakarta. Sebutlah misalnya aku ini anak atau orang Jakarta asli. Atau apalah istilah yang lain, asal jangan pribumi. Jangan bikin aku prihatin.

“Kedua, aku belum dapat menilai kinerja gubernur kita yang baru ini. Belum genap seminggu dilantik, tentu kegiatan beliau masih sekitar bersyukur, memperkenalkan diri, dan hal-hal sekitar itulah,” jawab Dul Karung dengan sedikit sok, karena merasa dia digolongkan ke kalangan orang-orang yang patut dimintai pendapat.

“Jadi kapan kau mau menagih janji-janji masa kampanye Pak Gubernur dan Pak Wagub ini?” tanya entah siapa dan di sebelah mana duduknya.

“Waduh, jangan sebut kata-kata menagih. Si Dul bisa alergi bila mendengar kata tagih dan menagih. Utangnya kepada pemilik warung ini, dan entah pemilik warung mana lagi, banyak sekali,” sela orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang, membuat ledakan tawa dahsyat dari hadirin bergemuruh. Kecuali Dul Karung yang tiba-tiba kecut.

“Kalau begitu kita kehabisan topik obrolan, dong?” kata orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Iya, kalau obrolan tentang yang baru yang sudah terwujud. Tapi ada lagi kan yang baru dan belum terwujud?” bantah orang duduk di dekat pintu masuk.

“Maksudmu apa?” tanya serentak Dul Karung dan beberapa orang pendengar yang bingung.

“Yang baru yang sudah terwujud, maksudku adalah Gubernur DKI Jakarta. Yang sudah terpilih dan bahkan mungkin sudah mulai bekerja, kan? Sedangkan yang kumaksud dengan yang baru tetapi belum terwujud, bahkan bisa saja takkan terwujud adalah Densus Tipikor Polisi,” jawab orang duduk di dekat pintu masuk.

“Wah sinis dan tendensius sekali kalimatmu menyatakan Densus Tipikor Polisi bisa saja takkan terwujud. Rupanya diam-diam kau tidak ingin korupsi diberantas ya?” tuding Dul Karung.

“Demi Allah, aku akan sujud syukur kalau korupsi bisa disikat habis dari negara yang kita sebut negara beragama ini. Risih aku setiap mendengar ucapan kita bangsa yang beragama, atau negara kita negara yang beragama, tapi korupsi dan koruptor berkembang biak. Padahal hampir setiap hari KPK melakukan OTT,” kata orang duduk di dekat pintu masuk lagi.

“Iya ya. OTT jadi Ora Tuntas-Tuntas,” gumam Mas Wargo di luar kebiasaan tak suka ikut campur obrolan pelanggannya.

“Seperti utangnya Dul Karung dong Mas,” tanggap orang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Andaikata aku bisa menjadi anggota organisasi atau lembaga anti-korupsi yang mana saja, pasti urusanku dengan Mas Wargo akan OTT juga,” kata Dul Karung sambil meninggalkan warung.

“Maksudmu OTT itu apa Dul?” teriak seorang hadirin melihat Dul Karung sudah jauh dari warung.

“Oetang Tidak Tambah-tambah. Kan semua badan pembasmi korupsi punya dana besar, masak iya anggotanya telantar?” teriak Dul Karung sayup-sayup sampai, karena dia sudah OTT juga. Alias Orangnya Tidak Tampak lagi. (syahsr@gmail.com )*