Wednesday, 19 September 2018

Suami Bergaya Puntadewa Istri Diserobot Ikhlas Saja

Senin, 23 Oktober 2017 — 6:12 WIB
dssemak

INI kisah suami bergaya Puntadewa. Mendengar istrinya, Sulimah, 32, kencan dengan pemborong, Mansur, 62, sama sekali tidak marah. Menyadari dirinya sudah tua, diikhlaskan saja mereka menikah. Alasannya, tak mau mengganggu kesenangan orang. “Kasihan jika karena laporan saya mereka masuk penjara.” Katanya.

Karakter manusia memang macam-macam. Ada yang pemaaf, ada yang pemberang. Ada yang pemarah, ada yang penyabar. Saking penyabarnya, bini diambil orang pun mengiklaskan saja, persis Puntadewa raja Ngamarta dalam cerita wayang. Prinsip orang demikian adalah: cari teman sebanyak-banyaknya, tapi cari musuh satu pun jangan. Jika orang berprinsip demikian, niscaya damai di bumi damai pula di langit.

Mansur warga Sambutan, Samarinda (Kaltim) memang mujur. Meski usia sudah kepala lima, sekitar 5 tahun lalu dapat mengawini janda muda, Sulimah. Meskipun menikahi janda itu kata orang akan selalu memperoleh “kelonggaran”, dia sama sekali tidak masgul. Yang penting baginya, ada teman buat ngobrol, ada teman diskusi, dan teman untuk yang lain-lainlah.

Meski usia sudah lanjut, tapi rupanya Mansur itu masih rosa-rosa macam Mbah Marijan. Buktinya dua tahun setelah menikah, pasangan bahagia itu memiliki anak. Sayangnya si upik tak bisa diemong. Dalam usia beberapa bulan meninggal. Sejak itu Ny. Sulimah tidak pernah hamil lagi. Benar-benar Sulimah hanya dijadikan teman tidur belaka.

Sampailah kemudian beberapa minggu lalu ada pemborong bangunan membangun rumah tak jauh dari rumah Mansur. Salimah rupanya kenal dengan sang pemborong, Rudi, 40. Kenalan itu terus berlanjut. Maklumlah, Rudi sebagai kontraktor proyek memang banyak duit. Sedangkan Sulimah, jika hanya mengandalkan penghasilan suami sebagai penjahit mana cukup. Maka sebagai imbalan selalu diberi budi, Sulimah harus siap membalasnya dengan bodi.

Tapi meski banyak duit, Rudi tak selalu mengajak kencan Sulimah di hotel. Jika sudah kebelet, di bedeng proyek pun jadilah. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu. Ketika tukang sudah pulang setelah bayaran hari Sabtu, eh…..Rudi menyempatkan diri bersama Sulimah berbagi cinta di dalam bedeng. Tak peduli bau semen dan plamir, mereka terus berlaga memadu cinta.

Ternyata ada anak-anak yang melihatnya, lalu lapor pada orangtuanya bahwa ada orang “bertumpukan” dalam bedeng proyek. Begitu dicek, ya ampuuuun…..pelakunya ternyata pemborong bersama Ny. Sulimah, bini abah Mansur. Skandal itu lalu diserahkan ke Pak RT untuk menindaklanjuti.

Pertama kali diberi tahu tentu saja Mansur selaku pemilik domain. Tapi ternyata sama sekali dia tidak marah. Mansur sangat mamahami kelakuan istrinya itu. Sebab sebagai lelaki tua yang kerjanya hanya penjahit, dia selama ini hanya bisa jadi penganut aliran kebatinan. Maksudnya, pada istri hanya mampu memberikan nafkah batin. Itupun tidak maksimal.

“Silakan saja mereka menikah.” Kata Mansur. Baginya, menghalangi niat mereka justru merupakan dosa baginya. Ketimbang dihalangi dengan akibat keduanya masuk penjara, mendingan mengiklaskan keduanya menjadi pasangan suami istri. Pak RT pun tak bisa apa-apa.

Mansur dapat pahala, pemborong dapat paha. (JPNN/Gunarso TS)