Saturday, 25 November 2017

TUAN RUMAH

Senin, 23 Oktober 2017 — 5:50 WIB

Oleh H. Harmoko

ABAIKAN perdebatan tentang pribumi dan nonpribumi. Mau menjadi tuang rumah di negeri sendiri? Mari belajar dari pengalaman tokoh perfilman Indonesia, Usmar Ismail dan Djamaludin Malik.

Pada tahun 1960-an, kedua tokoh itu mulai melihat adanya gejala film-film asing menyerbu Indonesia, diputar di bioskop-bioskop. Ada film India, Mandarin, Amerika, dan Eropa yang didominasi film-film janggo Italia.

Menyaksikan fakta itu, Usmar Ismail dan Djamaludin Malik mengadakan gerakan nyata. Tanpa banyak bicara. Keduanya membuat film-film nasional guna memenuhi bioskop-bioskop di Indonesia. Bermunculan pulalah studio-studio film seperti Persari milik Djamaludin Malik, Perfini didirikan oleh Usmar Ismail, studio Panah Mas di Senen, studio Sangga Buana milik Oei Tiang Tjai dan studio Gema Masa Film milik pengusaha John Sibih.

Menyusul itu, mulai semarak pula penulis-penulis skenario film, bintang-bintang film, serta karyawan di bidang teknis perfilman. Mereka berkumpul dalam berbagai himpunan profesi perfilman nasional kita. Banyak film nasional diproduksi.

Zaman berubah. Ketika pelopor-pelopor dan pejuang film tersebut sudah tiada, cita-cita untuk menjadikan film Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri tidak tercapai. Film-film impor merajalela lagi. Sistem liberalisme telah merusak sistem perekonomian rakyat Indonesia.

Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 diabaikan. Perekonomian rakyat hanya tinggal nama. Hal inilah yang digugat oleh para ahli-ekonomi, para pakar serta LSM yang masih peduli terhadap nasib kesejahteraan rakyat.

Pemerintah dan DPR sudah waktunya mengkaji ulang sistem perekonomian kita, agar masalah kemiskinan dan pengangguran dapat segera diatasi. Untuk itu perlu ada kebijakan yang arif dan cerdas, apalagi UUD 19456 telah direvisi yang cenderung mengabaikan nilai-nilai Pancasila.

Tanpa kebijakan kembali ke nilai-nilai Pancasila, sangat mungkin terjadi ledakan-ledakan sosial. Bahkan mungkin sumbu pendek dari bom waktu bisa meledak, mengancam kehidupan bangsa dan negara kita.

Banyak tulisan maupun pikiran-pikiran dipaparkan di media publik. Kita butuh sosok-sosok seperti Usmar Ismail dan Djamaludin Malik. Mereka masih banyak di luar panggung politik dan panggung bisnis nasional. Saatnya mereka kita tampilkan. Saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Mari! ( * )