Wednesday, 21 November 2018

Pengalaman Perempuan Inggris yang Menyamar Sebagai Muslim

Rabu, 25 Oktober 2017 — 1:22 WIB
Katie Freeman, tengah, didandani sebagai perempuan Muslim dengan wajah diwarnai menjadi cokelat.

Katie Freeman, tengah, didandani sebagai perempuan Muslim dengan wajah diwarnai menjadi cokelat.

SEORANG perempuan kulit putih Inggris yang menyamar sebagai Muslim selama sepekan menjadi sasaran Islamofobia dan bahkan ditanya apakah “dia akan meledakkan kami semua.”

Katie Freeman tampil dalam acara TV Channel 4 dalam dokumenter “Sepekan sebagai Muslim” dengan tujuan untuk melihat perlakuan buruk seperti apa yang dihadapi Muslim setiap harinya.

Program yang disiarkan Senin malam (23/10) itu sendiri dikritik karena mengangkat perempuan kulit putih yang wajahnya diwarnai menjadi cokelat dan Freeman sendiri sebelumnya memiliki pandangan anti-Islam.

Produser film dokumenter itu, Fozia Khan, mengatakan program itu dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana Islamofobia yang dihadapi perempuan Muslim di Inggris.

Tetapi banyak pemirsa yang mempertanyakan cara Channel 4 menunjukkan Islamofobia dengan mencari perempuan kulit putih yang didandani berkulit cokelat.

Dalam dokumenter yang dibuat setelah serangan teror di Manchester bulan Mei lalu, Katie Freeman menjadi anggota keluarga Muslim di kota itu.

Katie Freeman – yang mengenakan jilbab dalam dokumenter itu – menghadapi cacian saat ia melewati pub di Manchester dan diteriaki “kapan ia akan meledakkan mereka semua”.

Banyak yang mempertanyakan mengapa produser program tidak memberikan kamera tersembunyi kepada salah satu dari ratusan ribu perempuan dari 2,7 juta penduduk Muslim Inggris.

Seorang wartawan, Anisa Subedar,‏ menulis dalam akun Twitternya, “Seperti apa rasanya sebagai Muslim di Inggris dewasa ini?” Mengapa tidak bertanya ke Muslim saja?”

Sebagian setuju dan sebagian lainnya mendukung cara Channel 4, termasuk Paul Wilson yang menulis, “Tampaknya gagasan yang masuk akal bila Anda ingin menghentikan rasisme. Membuat orang rasis mengerti dan merasakan langsung.”

Pengguna lain, Jamie Donald‏ menulis, “Saya rasa sesuai konteks, untuk mengubah pandangan seseorang yang tak peduli.”

Namun banyak lainnya yang menganggap langkah Channel 4 terkait rasisme.

“Jutaan Muslim di Inggris mengalami rasisme,” tulis salah seorang pemirsa. “Channel 4 tidak menanyakan ke mereka namun justru memilih membuat cokelat wajah perempuan kulit putih.”

Produser Fozia Khan mengatakan “melalui program ini, Katie Freeman dapat merasakan pengalaman menjadi orang lain dengan latar belakang berbeda.”

Khan juga mengatakan program itu akan memberi peluang agar Freeman “mengalami sendiri seperti apa rasanya menjadi bagian dari komunitas Muslim Inggris Pakistan dan bukan hanya memperhatikan dari luar.”

Freeman menghabiskan waktu seminggu bersama keluarga asal Pakistan Saima Alvi, seorang guru dan ibu dari lima anak.

Dokumenter ini dibuat setelah serangan di Manchester Arena yang menyebabkan 22 orang meninggal Mei lalu.

Dewan Muslim Inggris, Muslim Council of Britain mengatakan kepada BBC mereka “tidak akan memberi saran” menampilkan orang dengan “wajah yang diwarnai cokelat” dan mengatakan mereka tidak terkejut program itu “menyebabkan banyak pihak sangat tersinggung”.

Tetapi organisasi ini memuji tujuan dari saluran TV ini untuk “memberikan pengertian lebih baik terkait Islamfobia yang seolah diterima dalam masyarakat yang lebih luas.”

Banyak pula yang mengkritik ditammpilkannya Katie Freeman karena sebelum ia menyamar, pandangannya “anti-Muslim.”

Mengecam Islamofobia

Dalam film dokumenter itu juga ada kutipan Freeman yang mengatakan, “Larang jilbab dan burka. Saya rasa (larangan) itu akan membuat orang jauh lebih senang, lebih aman. Saya tak mau duduk di samping mereka (yang berjilbab) karena secara otomatis saya berasumsi mereka akan meledakkan sesuatu.”

Namun setelah “Sepekan sebagai Muslim,” Freeman mengecam Islamofobia yang terlihat setelah serangan Manchester.

Freeman diteriaki orang saat lewat satu pub dan ditanya apakah dia akan meledakkan sesuatu. Ia mengatakan, “Itu apa yang harus mereka (Muslim) hadapi setiap waktu? Bahaya apa yang saya lakukan dengan berjalan di sini? Sama sekali tak ada bahaya.”

“Dan apa yang mereka maksud dengan meledakkan sesuatu?…Teriakan itu membuat saya muak.”

Pada akhir film dokumenter itu, Freeman menyimpulkan, “Anda tak bisa menyalahkan seluruh Muslim atas tindakan teror yang dilakukan satu orang yang tak berpikir panjang. Hanya karena mereka berbeda tak berarti mereka bisa disambut di sini.”

“Kita harus kuat dan menunjukkan kita bersatu.”

Pernyataannya yang lebih simpatik disambut sejumlah pemirsa.

Hassan Mohammad, yang tinggal di Birmingham, mengatakan seperti dikutip the Independent, “Mudah untuk menyebut Katie rasis namun paling tidak ia terbuka untuk belajar lebih banyak tentang Muslim. Semoga ada lagi yang demikian.”

Permisa lain, Shakil Seedan sepakat dan mengatakan, “Mereka yang mengkritik My Week As a Muslim, saya rasa tak ada cara lain yang lebih baik untuk belajar berempati dan belajar untuk peduli dengan mencoba merasakan sendiri pengalaman orang lain.” (BBC)