Friday, 19 July 2019

Di Balik Pertemuan Jokowi-SBY

Sabtu, 28 Oktober 2017 — 5:03 WIB

UNTUK kedua kalinya Presiden Joko Widodo menerima kunjungan Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka. Pertemuan pertama berlangsung, Kamis siang, 9 Maret lalu. Saat itu Presiden Jokowi menerima SBY di beranda Istana Merdeka.

Pada pertemuan yang kedua, Jumat (27/10) siang kemarin, Presiden Jokowi juga menerima SBY di beranda Istana.

Keduanya tampak berbincang santai. Sesekali Jokowi, Presiden ke-7 RI maupun SBY, Presiden ke-6 ini tersenyum di sela pertemuan itu. Tampak dua cangkir berwarna putih berada di meja depan Jokowi dan SBY. Tampak juga beberapa cemilan yang ada di piring kecil yang terletak di depan keduanya.

Moment ini biasa disebut Veranda Talk, hanya tamu-tamu spesial yang biasanya diajak Presiden Jokowi mengobrol di beranda.

Pertemuan kali ini boleh dibilang tak terduga sebelumnya oleh wartawan yang bertugas di Istana, karena tidak tercatat dalam agenda harian jadwal kegiatan Presiden Jokowi.

Lepas dari mendadak atau telah diagendakan sebelumnya, yang pasti pertemuan kedua bapak bangsa ini diharapkan makin menciptakan kesejukan politik di tanah air. Publik berkeyakinan pertemuan ini akan membawa kebaikan ke depan, apalagi berlangsung sehari sebelum hari bersejarah, peringatan Sumpah Pemuda.

Hingga selesai pertemuan sore kemarin, belum diperoleh keterangan rinci materi yang dibahas. Begitu juga urgensi dari hasil pertemuan. Meski begitu kami melihat bahwa pertemuan empat mata ini tentu penuh makna.

Pertama, telah terbangun komunikasi politik yang lebih harmonis antara Presiden Jokowi dengan SBY sebagai ketua umum Partai Demokrat.Ini terlihat adanya keakraban selama pertemuan.

Kedua, meski Partai Demokrat tetap memposisikan diri sebagai penyeimbang, tetapi dengan jalinan komunikasi yang lebih baik, akan mempengaruhi sikap politik terkait kebijakan pemerintah ke depan.

Ketiga, pertemuan diduga membahas isu terkini yang sedang berkembang, di antaranya pasca disahkannya Perppu Ormas yang telah disahkan menjadi undang-undang. Seperti diketahui,
Partai Demokrat merupakan satu dari 7 partai yang mendukung pengesahan dengan catatan, yaitu pemerintah diminta merevisi setelah disahkan. Boleh jadi, soal revisi ini menjadi satu meteri yang ikut dibahas dalam pertemuan.

Apakah masih ada isu yang lain yang dibahas, termasuk deal politik yang dicapai? Jawabnya, kalaupun ada,tentu saja sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi politik. Bagi rakyat yang terpenting adalah meningkatnya kesejahteraan. (*).