Saturday, 25 November 2017

Jaga Mal! Jangan Berikan As

Sabtu, 28 Oktober 2017 — 6:10 WIB
dulkar

Oleh S. Saiful Rahim

“KEREN deh! Aku benar-benar tidak menyesal menjadi rakyat, bila senantiasa mendapat pelayanaN seperti itu,” kata seorang lelaki perlente sambil melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo.

“Beri salam dulu dong kalau masuk ke suatu tempat, atau ketemu seseorang. Kecuali bila tempat yang Anda masuki itu WC,” sambut dan sekaligus ‘sambit’ Dul Karung yang duduk selang tiga orang dari pintu masuk warung.

“Maaf, aku lupa. Lagi pula tadi kukira yang ada di sini cuma kau sendiri,” balas dan sindir orang itu, membuat beberapa orang yang ada di sana tersenyum. Kecuali Dul Karung yang cemberut.

“Waduh, kok Dul Karung disamakan dengan WC, tak layak diberi ucapan assalamu alaykum,” sambar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

Kini bukan sekadar senyuman, gelak tawa yang meledak-ledak pun turut membahana.

“Hus! Sudah sudah sudah,” sergah orang yang memakai kopiah dan duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Kalian semua seperti anggota parlemen gemar cari-cari masalah saja. Padahal Bapak yang berpakaian perlente tadi sudah membuka obrolan ini dengan baik. Sebagai rakyat, atau warga Ibu Kota, beliau merasa telah mendapat pelayanan yang baik. Coba kita tanya di mana dan dalam hal apa beliau memperoleh pelayanan yang beliau sebut keren itu?” sambungnya sambil mengalihkan pandang ke arah orang berpakaian necis dan berwajah ceria itu.

“Di Mal Pelayanan Publik, di Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan,” jawab orang tersebut dengan jelas dan santun.

“Padahal, mungkin dulunya itu kandang sapi atau gilingan tahu,” sela Dul Karung yang niatnya bergumam tapi terlalu keras, hingga beberapa hadirin memandang dengan mata terbelalak. Memprotes.

“Sejak dulu sampai pertengahan tahun 1950-an penduduk asli di sana kebanyakan peternak sapi perah dan pembuat tahu,” ujar si Dul berusaha membela diri.

“Sudahlah Dul. Kita tidak sedang bicara tentang Jakarta tempo dulu, tapi Jakarta now. Jakarta hari ini,” bentak orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Tadi Bapak mengatakan mendapat pelayanan yang keren di mana itu, Pak?” sambungnya sambil beralih pandang ke arah orang yang tadi memuji-muji.

“Mal Pelayanan Publik. Bukan hanya saya, orang-orang lain pun yang berurusan di sana diperlakukan sebagai manusia sebenarnya. Ada perwakilan dari 14 instansi dengan 59 ruang pelayanan di satu bangunan 3 lantai. Di pintu masuk gedung pengunjung disambut petugas yang menanyakan apa keperluan pengunjung? Memberikan nomor antre dan menunjukkan arah kantor yang dituju. Petugas yang sama, dengan keramahan sama, ada di setiap lantai. Barangkali hanya malaikat-malaikat di surga yang kerjanya seperti itu,” jelas orang perlente itu dengan lagak yang tidak dibuat-buat.

“Saya belum pernah berurusan dengan Bapak-bapak anggota DPR yang terhormat, yang katanya wakil rakyat itu. Tapi saya nyaris yakin pelayanan beliau-beliau tidak sebaik layanan petugas-petugas Mal Pelayanan Publik,” sambung orang itu bagaikan tak puas memuji.

“Wah Bapak tidak boleh bilang begitu. Itu sudah tergolong kasus pencemaran nama baik,” kata orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Sekarang sebutannya pencemaran nama, nggak pake baik. Mungkin namanya belum tentu baik,” sela Dul Karung seenaknya tapi membuat semua mata hadirin beralih pandang padanya.

“Ya bagaimana bisa melayani kita dengan baik, kalau kerjanya ribut melulu. Yang di DPR Pusat sibuk mengubek-ubek KPK supaya tidak galak terhadap teman-teman sejawatnya yang terduga korupsi. Yang di DPRD DKI, ketuanya masih belum mau melaksanakan Rapat Paripurna Istimewa untuk mengkaji visi misi Gubernur DKI Jakarta yang baru. Runyam kan?” ujar orang berpenampilan perlente.

“Kalo Bapak pro banget pada pelayanan mal yang baru itu tak apa-apa. Negara kita kan masih demokrasi. Cuma saya pesan mal itu jangan diberi as,” kata Dul Karung membuat orang bertanya-tanya.

“Maksudmu apa, Dul?” teriak seseorang karena Dul Karung sudah meninggalkan warung.

“Kalo mal itu ditambahi as, kan jadi malas. Sama saja dengan lembaga atau kantor pelayanan yang lain,” jawab Dul Karung dengan setengah berteriak ( syahsr@gmail.com )*