Saturday, 25 November 2017

CANDRADIMUKA

Senin, 30 Oktober 2017 — 5:50 WIB

Oleh Harmoko

DI kawah Candradimuka, demikian terkisahkan dalam cerita perwayangan, anak Bima bernama Tutuka digembleng oleh Batara Empu Anggajali, hingga kemudian menjadi kesatria perkasa bernama Gatotkaca. Bagaimana “candradimuka” anak-anak Indonesia?

Lembaga pendidikan sesungguhnya merupakan kawah candradimuka generasi muda Indonesia. Di sana anak-anak muda Indonesia digembleng. Maka, ketika tahun 1967 ada sahabat saya mau mendirikan akademi publisistik dan saya diminta memberi nama, spontan saya menjawab, “Beri nama Candradimuka saja.”

Sahabat itu seorang wartawan di Palembang. Namanya Ismail Djalili. Kemudian lahirlah Akademi Publisistik Candradimuka Palembang. Siapa pun yang dididik di akademi itu diharapkan bisa menjadi sosok-sosok kesatria, penuh disiplin, dan teguh memegang prinsip seperti sang Gatotkaca.

Seiring perkembangan waktu, penataan lembaga pendidikan pun dilakukan. Mulai 1989 Akademi Publisistik Candradimuka berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Candradimuka. Tidak hanya mengajarkan ilmu publisistik, tetapi juga ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan ilmu administrasi, ilmu komunikasi, ilmu kesejahteraan sosial, dan ilmu politik.

Ribuan sarjana telah dihasilkan. Saya ikut senang dan bangga. Mereka mengabdikan diri sebagai kader bangsa melalui lembaga pemerintah maupun swasta sesuai dengan profesi masing-masing.

Hal itu dimungkinkan karena STISIPOL Candradimuka mengedepankan nilai-nilai Pancasila dalam menggembleng anak-anak muda. Ini sejalan dengan visi dan misi sekolah tinggi itu, yakni menciptakan kader bangsa yang unggul dalam pengembangan ilmu sosial, ilmu politik, dan ilmu budaya; serta peduli terhadap kepentingan dan kebutuhan masyarakat.

Semoga cita-cita almarhum H. Ismail Djalili bisa tercapai dalam menciptakan generasi muda yang mumpuni sebagai kader bangsa yang menguasai dan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan demi kemandirian, dan bisa mempraktikkan ilmu pengetahuan dalam bentuk hasil cipta, karsa, dan karya. Insyaalah. *