Saturday, 17 November 2018

Pemilik Kartu BPJS Keluhkan Kelangkaan Obat di RSUD Tarakan

Selasa, 31 Oktober 2017 — 21:56 WIB
RSUD Tarakan (ist)

RSUD Tarakan (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Direktur Utama RSUD Tarakan, dr. Togi Asman Sinaga mengakui Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan Jakarta saat ini kekurangan jenis obat tertentu. Togi mengatakan ketiadaan jenis obat tertentu akibat distribusinya terlambat.

Togi menjelaskan keterlambatan distribusi obat-obatan disebabkan beberapa faktor, diantaranya keterlambatan surat permintaan obat-obatan.

“Ya dalam minggu ini beberapa jenis obat tidak ada karena distribusinya terlambat. Bisa jadi karena kita mengindennya telat, suratnya sampai ke sana terus, jenis obatnya terlalu sedikit jadi mereka dikumpulkan gitu,” katanya saat dihubungi, Selasa (31/10/2017).

Menyikapi ketiadaan obat tertentu tersebut, RSUD mensiasati degan mengganti obat tersebut dengan obat lain yag sejenis. Namun untuk mendapatkan obat tersebut, pasien diharuskan mengganti resep obat kepada dokter terlebih dahulu. Menurut dr Togi, regulasi inilah yang menyebabkan anggapan resep obat ditolak pihak RSUD Tarakan.

“Biasanya kita suruh datang kembali dengan obat yang sama, dokternya kita sarankan mengganti obat yang sejenis yang sama. Nanti (pasien) disuruh datang kembali (setelah mendapat resep baru). Jadi bukan ditolak. Disuruh kembalikan (resep) ke dokternya,” terang Dr. Togi.

Sebelumnya, seorang warga Arif Febriyanto mengadukan kepada email poskotanews.com, kelangkaan obat di RSUD Tarakan .

Arif menuturkan, nasih ibunya, yang berobat secara rutin di RSUD Tarakan dengan fasilitas BPJS Kesehatan tidak mendapatkan obat saat menyodorkan resep ke bagian farmasi karena kekosongan stok. Menurut Arif, selain ibunya, pasien rawat jalan lain juga mengalami hal yang sama.

” Sudah dua bulan, setiap resep yang diterima dari Poli Syaraf untuk ditebus di Depo Farmasi RSUD Tarakan pasti ada obat yang kosong. Puncaknya adalah hari Senin 30 Oktober 2017, ketika ibu saya hendak menyerahkan resep di Depo Farmasi ternyata semua resep dari ratusan pasien rawat jalan, ditolak semua akibat stok obat kosong,” tutur Arif.

Arif pun menyayangkan perihal kekosongan stok obat-obatan di rumah sakit milik pemerintah daerah itu melihat ratusan pasien menggantungkan pemgobatannya di situ . Karenanya Arif mengadukan hal itu ke Gubernur di Balaikota melalui staf pengaduan dengan harapan mendapat tindak lanjut. (ikbal)