Sunday, 23 September 2018

Konten Propaganda Rusia ‘Jangkau 126 Juta Pengguna Facebook di Amerika Serikat’

Rabu, 1 November 2017 — 0:21 WIB
Foto TPlusMagz

Foto TPlusMagz

AMERIKA– Facebook mengatakan 126 juta penggunanya di Amerika Serikat mungkin telah melihat konten propaganda Rusia sebelum dan sesudah pemilihan presiden AS tahun lalu.

Situs jejaring sosial itu mengatakan sekitar 80.000 unggahan dibuat antara Juni 2015 hingga Agustus 2017. Sebagian besar unggahan itu berisi pesan-pesan yang memecah belah dari segi politik maupun sosial.

Dikatakan oleh Facebook bahwa konten-konten itu diunggah oleh perusahaan Rusia yang memiliki kaitan dengan Kremlin.

“Tindakan-tindakan ini bertentangan dengan misi Facebook dalam membangun komunitas dan segala sesuatu yang kami perjuangkan,” tulis pengacara Facebook Colin Stretch, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

“Dan kami bertekad melakukan apa saja yang dapat kami lakukan untuk menangani ancaman baru ini.”

Dipanggil Senat

Fakta ini diungkap oleh Facebook menjelang rapat dengan Senat yang akan mendengarkan penjelasan tentang dampak dari dugaan tindakan Rusia di situs-situs jejaring sosial.

Selain Facebook, yang juga akan dimintai keterangan oleh Senat adalah Twitter dan Google. Twitter dan Google juga mengaku telah digunakan untuk menyebarkan unggahan-unggahan yang asal-usulnya berasal dari Rusia.

Menurut Google, kaki tangan Rusia mengunggah lebih dari 1.000 video di YouTube lewat 18 saluran berbeda-beda, seperti dilaporkan oleh koran Amerika Serikat Washington Post.

Sementara itu, Twitter menemukan dan kemudian menutup 2.752 akun yang setelah dilacak ternyata berasal dari Badan Penelitian Internet Rusia, demikian kata seorang sumber kepada kantor berita Reuters.

Facebook semula menepis adanya pengaduan terkait penyebaran berita bohong di situsnya sebagai gagasan gila.

Dalam berbagai kesempatan Rusia telah membantah tudingan bahwa pemerintah negara itu berusaha mempengaruhi pemilihan presiden Amerika Serikat yang dimenangkan oleh Donald Trump dengan mengalahkan Hillary Clinton dari Partai Demokrat.

Presiden Trump juga menepis tuduhan berkolusi dengan Moskow dan sebaliknya menyerukan agar Hillary Clinton diselidiki.

Perkembangan penting baru-baru ini:

November 2016: Pendiri Facebook Mark Zuckerberg mengatakan “ide bahwa berita bohong di Facebook mempengaruhi pemilihan (Amerika Serikat) merupakan gagasan yang cukup gila.”

November 2016: Zuckerberg mengatakan hanya “sedikit ” konten di Facebook yang tergolong berita hoax.

Agustus 2017: Facebook menyatakan akan memerangi berita bohong dengan cara mengirimkan berita-berita yang diduga bohong ke tim pemeriksa fakta dan mempublikasikan temuan mereka di online.

September 2017: Komite Intelijen Senat AS mengkritik Twitter karena kehadirannya “tidak cukup” dalam acara-acara briefing dalam masalah dugaan campur tangan Rusia.

Oktober 2017: Google menemukan bukti bahwa agen-agen Rusia membelanjakan puluhan ribu dolar untuk membeli iklan sebagai upaya mempengaruhi pemilihan, lapor media.

Oktober 2017: Facebook mengatakan akan memberikan rincian mengenai lebih dari 3.000 iklan yang disebutkan dibeli di Rusia pada saat pemilihan presiden digelar.

Oktober 2017: Twitter melarang outlet media Rusia RT dan Sputnik membeli iklan di tengah kekhawatiran mereka telah berupaya mencampuri pilpres.(BBC)