Monday, 24 September 2018

Kontes Kecantikan Peru jadi Ajang Protes Kekerasan Seksual

Jumat, 3 November 2017 — 0:35 WIB
missperu

PERU– Peserta kontes kecantikan Miss Universe Peru mendobrak tradisi dengan mengabaikan permintaan menyebutkan data tubuh mereka, dan justru membacakan statistik yang merinci kekerasan terhadap perempuan.

Alih-alih menyebutkan ukuran payudara, pinggang dan pinggul mereka, kontestan bergantian membacakan data kekerasan yang mengguncangkan.

Panitia penyelenggara juga bergabung dengan menunjukkan berbagai berita tentang kasus-kasus serangan berbasis gender.

Ke-23 calon ratu kecantikan itu saling bersaing untuk bisa lolos ke kompetisi Miss Universe bulan November ini di Las Vegas.

Tahun lalu ribuan perempuan Peru turun ke jalan untuk memprotes kekerasan berbasis gender.

Seorang kontestan mengatakan, seorang gadis meninggal setiap 10 menit karena eksploitasi seksual di Peru.

Seorang lain mengungkapkan, lebih dari 70% perempuan di negara itu menjadi korban pelecehan jalanan.

Acara yang disiarkan televisi tersebut mengejutkan pemirsa yang mengharapkan hiburan ringan sebagaimana biasanya ditampilkan acara itu secara tradisional.

Ketua penyelenggara kontes itu, Jessica Newton, mengatakan kepada kantor berita AFP, “Yang disayangkan, banyak perempuan tidak tahu soal kekerasan-kekerasan terhadap perempuan, dan menganggapnya sebagai kasus khusus belaka.”

“Saya kira, kalau melihat di sekeliling kita saja. di wilayah terdekat, akan didapat gambaran yang terbuka dan nyata tentang apa yang terjadi di negara kita, yang sangat mengkhawatirkan.”

Dia mengatakan dari 150 peserta kontes kecantikan Peru ini, lima orang menjadi korban kekerasan, antara lain pemerkosaan.

Di penghujung malam acara itu, kontestan ditanya apa yang akan mereka lakukan terkait kekerasan seksual itu, dan bukannya ditanya dengan pertanyaan ringan tentang hobi dan ambisi sebagaimana biasanya.

Pemenang kontes kecantikan Peru, Romina Lozano, mengatakan bahwa ia berkeinginan untuk “menerapkan sebuah database yang berisi nama setiap pelaku, tidak hanya untuk pembunuhan terhadap perempuan, tetapi juga untuk setiap jenis kekerasan terhadap perempuan. Dengan cara ini, kita dapat melindungi diri.”

Kontestan berencana untuk memimpin unjuk rasa yang menyoroti kekerasan terhadap perempuan di Lima, ibukota Peru, pada bulan November ini.

Menurut lembaga Amerika Serikat, Peru menempati urutan kedua di Amerika Selatan setelah Bolivia yang memiliki catatan terburuk ihwal kekerasan terhadap perempuan.

Pemerintah Peru mengatakan, dalam enam tahun hingga 2015, setidaknya 800 perempuan dibunuh dalam kekerasan yang berkaitan dengan gender.

Pada bulan September 2015, Kongres Peru mengeluarkan sebuah undang-undang yang merinci langkah-langkah komprehensif untuk mencegah dan menghukum kekerasan terhadap perempuan dan mendirikan tempat penampungan serta tempat perlindungan sementara bagi perempuan.

Tahun lalu puluhan ribu perempuan berdemonstrasi di Lima dan kota-kota lain di Peru, menuntut aparat untuk meningkatkan upaya menghentikan kekerasan berbasis gender.(BBC)