Saturday, 25 November 2017

Percepat Penerapan E-Tilang

Jumat, 3 November 2017 — 5:55 WIB

JAJARAN kepolisian di seluruh Indonesia kini sedang menggelar Operasi Zebra 2017 sejak 1 November. Hari kedua razia digelar, ribuan kendaraan terjaring di berbagai wilayah. Di wilayah hukum Polda Metro Jaya, sudah 2.000 lebih pengendara ditilang, sebagian besar sepeda motor.

Tingginya angka pelanggaran lalu lintas menunjukkan betapa rendahnya mental disiplin sebagian pengendara dan perilaku ‘hobi’ melanggar hukum. Perilaku ‘primitif’ pengguna kendaraan di jalan raya, menjadi penyebab kacaunya lalu lintas. Disebut primitif karena kerap seenaknya mengemudikan kendaraan tanpa memperdulikan keselamatan orang lain dan diri sendiri. Yang bikin tercengang, beberapa pengendara di kawasan Tangerang, berani menerobos barisan petugas yang sedang menggelar operasi.

Kekacauan lalu lintas setiap hari bisa disaksikan publik. Seperti pengendara tidak mengenakan helm, melanggar traffic light, naik trotoar, dan yang paling parah adalah melawan arus. Mereka tidak takut kehilangan nyawa, dan seperti tidak punya rasa bersalah nyawa orang lain terancam. Catatan Polda Metro Jaya, dalam sehari rata-rata angka pelanggaran lalu lintas mencapai 3.000-3.500 kendaraan.

Operasi Zebra yang digelar Polri setahun dua sampai tiga kali, bertujuan menekan angka pelanggaran lalu lintas dan menegakkan hukum di jalan raya. Sayangnya, operasi semacam ini hanya solusi instan mengatasi kesemrawutan di jalan raya. Pengendara hanya patuh sesaat, selesai razia tetap saja berperilaku buruk saat berkendara.

Berbagai cara dilakukan aparat kepolisian guna mengubah perilaku ‘primitif’ pengendara di jalan raya. Mulai dari memberi edukasi berupa penyuluhan-penyuluhan, teguran simpatik hingga penegakan hukum, tapi tetap saja mental buruk mereka tidak berubah.

Agaknya, penegakan hukum saat ini solusi yang paling tepat menekan angka pelanggaran lalu lintas. Mengubah mental buruk harus dipaksa. Harus diakui, jumlah personel polantas di Jakarta saat ini tidak bisa mencover semua titik-titik rawan pelanggaran. Itu sebabnya pemberlakuan e-tilang atau tilang elektronik berbasis CCTV, harus dipercepat.

Pengawasan melalui CCTV bisa lebih efektif karena membantu kekurangan jumlah petugas di lapangan. Dengan adanya kamera pengintai, penempatan petugas hanya di titik-titik yang belum terpantau kamera serta di lokasi rawan kemacetan. Di sisi lain, pengendara akan berfikir ulang bila hendak melanggar karena mereka diawasi. Oleh karena itu, penerapan e-tilang jangan ditunda lagi. **