Saturday, 25 November 2017

Usah Makan Pagi,atau Usah Makan Petang

Sabtu, 4 November 2017 — 5:08 WIB
ump

Oleh S Saiful Rahim

MENDENGAR suara Dul Karung memberi salam di pintu masuk warung kopi Mas Wargo, orang yang duduk dekat pintu menyambut dengan pertanyaan yang tak kalah nyaring, “Berapa utangmu kini, Dul?”

Langkah masuk Dul Karung pun serta merta tersendat, dan seseorang yang duduk di bagian tengah bangku panjang minumnya tersekat. Dia terbatuk-batuk mendengar pertanyan yang sangat jauh dari etik itu.

“Sudah berkali-kali kukatakan di sini bahwa menurut Kanjeng Nabi Muhammad Saw, bila ada orang yang memberi salam, cepatlah balas dengan kalimat yang lebih baik. Walaupun memberi salam itu hukumnya sunah, tapi menjawabnya wajib. Kalau salam seseorang dibalas dengan pertanyaan berapa besar utangnya, sungguh jawaban tidak beradab,” celetuk orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang dengan wajah prihatin.

“Gapapa-gapapa. Aku memang sedang belajar mengedepankan maafku daripada marahku,” kata Dul Karung dengan suara serius dan amat ramah.

“Karena itu, walaupun aku bukan orang yang makan gaji, aku bersyukur mendengar kabar UMP 2018 sudah diumumkan dan diberlakukan,” sambung Dul Karung.

Beberapa orang yang hadir di warung kopi merasa heran. Dul Karung yang biasanya ngomong seenak perutnya saja, kali ini kok terdengar amat bijak.

“Wah, jangan-jangan Hari Kiamat datangnya minggu ini ya?” gumam seseorang mengembalikan watak asli obrolan warung kopi. Dan senyum dikulum pun tampak menghiasi beberapa bibir kadirin.

“Karena kau bukan seorang pegawai negeri, apalagi pegawai luar negeri. Bukan pegawai swasta, apalagi pegawai suasa. Pokoknya bukan orang yang makan gaji, menurut istilahmu, maka aku ingin beri tahu ya, UMP itu bukan berarti Upah Minimum Provinsi, tapi “Usah Makan Pagi” atau “Usah Makan Petang.” Artinya makan satu kali saja. Itupun bukan bisa makan menurut selera, tetapi asal bisa ditelan, cukuplah” kata entah siapa dan yang duduk di sebelah mana.

“Bersyukurlah ada kenaikan atau penyesuaian UMP, kalau tidak kan lebih gawat lagi,” sambar Dul Karung seenaknya.

“Bung jangan mengira mereka yang jadi pengusaha, yang tiap hari hilir mudik dalam sedan, penampilan necis, pakaian kelimis itu tidak pernah menangis. Mereka juga harus pandai memutar pikiran secepat titiran. Banyak di antara mereka yang hari ini cuma melihat satu solusi untuk menyelamatkan usaha mereka. Yaitu memidahkan ladang usahanya ke daerah.
Memboyong pabrik-pabrik mereka jauh ke daerah. Ke provinsi-provinsi yang mematok UMP lebih murah. Lebih mudah diraih. Padahal emangnye mindain pabrik gak pake duit? Bukan jutaan, miliaran bisa habis untuk pindah tempat saja,” sambung Dul Karung, membuat sebagian pendengarnya geleng-geleng kepala dan sebagian lagi manggut-manggut seperti burung terkukur jantan merayu betinanya.

“Sudah sudah. Jangan tarik-tarikan otot soal UMP, dan takut harga-harga di warung ini naik seperti harga-harga di pasar kalau ada kabar gaji naik, ” sela Mas Wargo yang biasanya tidak suka turut campur obrolan, apalagi otot-ototan, para pelanggannya.

“Jadi di warung ini tidak akan ada harga yang disesuaikan UMP? Tida ada yang naik?” tanya orang yang duduk tepat di kiri Dul Karung, sambil menatap ke muka Mas Wargo.

“UMP itu ketentuan pemerintah, jadi harus dilaksanakan,” serobot Dul Karung sambil menatap muka Mas Wargo pula. Ketika dia melihat Mas Wargo akan bereaksi, cepat-cepat Si Dul berkata lagi.

“UMP bagi Mas Wargo artinya “Untuk Merebut Pasaran.” Jadi, karena itu tidak mungkin beliau menaikkan harga dagangannya dan melarang berutang. Karena utang sudah jadi komponen dan budaya bisnis kita.”

“Utang kok dijadikan budaya?” kata seseorang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Daripada korupsi yang terasa sudah jadi budaya,” gumam Dul Karung sambil meninggalkan warung. (syahsr@gmail.com )