Tuesday, 21 August 2018

Arab Saudi Gagalkan Serangan Rudal Balistik Yaman ke Bandara Riyadh

Minggu, 5 November 2017 — 8:42 WIB
Penangkal rudal Patriot buatan Amerika Serikat, berhasil menangkal rudal balistik yang ditujukan ke Bandara Riyadh, Arab Saudi.(EPA)

Penangkal rudal Patriot buatan Amerika Serikat, berhasil menangkal rudal balistik yang ditujukan ke Bandara Riyadh, Arab Saudi.(EPA)

ARAB SAUDI – Arab Saudi mengklaim telah menangkal serangan  rudal balistik yang dilesatkan dari Yaman dan mengincar Bandara Riyadh.

Rudal tersebut, sebagaimana dilaporkan Saudi Press Agency, dicegat saat melesat di atas kota Riyadh sebelum menghantam Bandara Internasional King Khalid.

Suara ledakan terdengar di dekat bandara dan sejumlah pecahan rudal jatuh di kawasan bandara.

Klaim pemerintah Saudi dikuatkan oleh laporan stasiun televisi yang terkait dengan pemberontak Houthi di Yaman. Laporan itu menyebutkan sebuah rudal telah ditembakkan ke arah Bandara King Khalid.

Dinas Penerbangan Sipil Saudi mengaku lalu lintas penerbangan sama sekali tidak terganggu akibat insiden tersebut.

Kubu pemberontak Houthi diyakini menyimpan cadangan rudal balistik Scud dan sejumlah varian buatan sendiri. Namun, militer Saudi beberapa kali menangkalnya dengan rudal Patriot yang dibeli dari Amerika Serikat.

Penembakan rudal dari Yaman ke Saudi bukan kali ini terjadi. Pada Mei lalu, pemberontak Houthi juga melesatkan rudal ke Riyadh, sehari sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan berkunjung. Akan tetapi, rudal itu ditembak jatuh 200 kilometer sebelum mencapai kota.

Sejak 2015 lalu, Yaman dilanda peperangan antara pasukan loyalis Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi dan milisi pemberontak Houthi. Arab Saudi dan pasukan koalisinya memimpin serangan udara untuk memberangus pemberontak Houthi.

Beberapa pejabat Yaman dan paramedis mengatakan serangan yang diduga diprakarsai pasukan koalisi Saudi telah menewaskan sedikitnya 26 orang di sebuah hotel dan pasar di bagian utara Yaman, pada Rabu (01/11/2017).

Pasukan koalisi Saudi berkeras mereka mengincar “target militer yang sah”, walau sejumlah kelompok pembela HAM menyebut mereka telah menyerang sekolah, rumah sakit, pasar, dan kawasan permukiman.

Guna mengakhiri peperangan di Yaman, PBB sudah berupaya menggelar perundingan damai, namun gagal.

Konflik di Yaman telah menewaskan 8.600 orang dan mencederai hampir 50.000 lainnya. Selain itu, sebanyak 20,7 juta orang amat memerlukan bantuan kemanusiaan sehingga menciptakan darurat pangan terbesar di dunia.

Wabah kolera di Yaman diyakini telah berdampak pada 884.000 orang dan menyebabkan 2.184 kematian.(Tri)