Thursday, 23 November 2017

Saatnya Industri Nasional Menproduksi Mobil Pedesaan

Minggu, 5 November 2017 — 8:23 WIB
enteri Perindustrian Airlangga Hartarto memperhatikan prototipe kendaraan pedesaan yang diberi nama Moda Angkutan Hemat Pedesaan (Mahesa) Nusantara produksi Bengkel Kiat Motor di Klaten, Jawa Tengah, 3 November 2017.(Ist)

enteri Perindustrian Airlangga Hartarto memperhatikan prototipe kendaraan pedesaan yang diberi nama Moda Angkutan Hemat Pedesaan (Mahesa) Nusantara produksi Bengkel Kiat Motor di Klaten, Jawa Tengah, 3 November 2017.(Ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat serta mewujudkan kemandirian penguasaan teknologi oleh anak bangsa, Kementerian Perindustrian terus memacu industri dalam negeri untuk memproduksi mobil pedesaan.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan, mobil pedesaan dibutuhkan untuk memenuhi alat transportasi multiguna disektor pertanian dan perkebunan.

“Pemerintah menyiapkan regulasi kendaraan pedesaan supaya bisa dikembangkan industri nasional. Artinya, harus dibuat di Indonesia,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika mengunjungi Bengkel Kiat Motor di Klaten, Jawa Tengah, Jumat (3/11/2017).

Pengembangan kendaraan pedesaan ini didasarkan pada program pemerintah yang tertuang di butir Nawacita, salah satunya adalah membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Menperin menyebutkan, langkah yang sudah dilakukan Kemenperin dalam percepatan pengembangan kendaraan pedesaan, antara lain pembuatan prototipe, pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan rantai pasok serta penyiapan infrastruktur dan model bisnis. “Aftersales-nya dan jaringan distribusinya juga tengah dipertimbangkan, termasuk uji pasarnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, kendaraan pedesaan yang dikembangkan oleh Kemenperin adalah prototipe yang siap diproduksi. Prototipe ini membuktikan bahwa anak bangsa Indonesia mampu mendesain dan memahami teknik mesin otomotif.

“Prototipe ini menjadi platform kendaraan yang akan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan khususnya di daerah pedesaan. Mungkin awalnya bisa dikembangkan ke arah sinergi Solo Raya (Klaten, Jogja, Solo), setelah itu dibawa ke nasional,” papar Airlangga.

Bengkel Kiat Motor milik Sukiyat di Klaten, lanjutnya,  telah merampungkan tiga prototipe (mobil double cabin, mobil pick up, dan mobil peralatan pertanian) yang diberi nama Moda Angkutan Hemat Pedesaan (Mahesa). Mobil pedesaan buatannya ini bakal dibandrol dengan harga yang relatif terjangkau untuk para petani, masing-masing Rp50 juta, Rp60 juta, dan Rp70 juta.

“Besar-kecilnya harga bergantung dari kapasitas angkut hasil pertanian atau perkebunan. Rencananya pada Agustus 2018 akan mulai diproduksi massal untuk mobil angkutan pertanian,” ujarnya.

Pemilik bengkel Sukiyat menambahkan, harga mobil pedesaan  buatannya bisa murah, karena semua komponennya didapat secara lokal. “Bahan bakunya mudah dicari,” imbuhnya.

Pada September 2017, Presiden Joko Widodo sempat meninjau Bengkel Kiat Motor. Menurut Presiden, pemerintah mendukung kendaraan pedesaan Mahesa bisa diproduksi massal dengan harga kompetitif dan kualitas produksi yang baik.

“Pemerintah akan bantu dorong dari regulasinya, uji emisi, sertifikasi, dan mungkin dari pajaknya. Tetapi pengembangannya tergantung pada pelaku industri. Pemerintah ingin industri nasional berkembang,” ungkapnya.(Tri)