Thursday, 23 November 2017

Terima Sanksi Hukum Adat Gara-gara Berburu Nikmat

Selasa, 7 November 2017 — 5:15 WIB
dianaaa

DUA sejoli Nurhalizah – Kirman ini benar-benar rugi bandar. Nikmat syahwat yang diperoleh tak sebanding dengan sanksi hukum adat yang harus dibayarnya. Bayangkan, di kala masih nanggung kelonan, digerebek warga dan dikenakan sanksi hukum adat bayar dengan seekor kerbau dan beras hampir 3 kuintal.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, begitu kata pepatah Minang. Tapi meski bukan urang awak, menghormati adat istiadat di mana kita berada, itu sangat diperlukan. Itu bukti sebuah toleransi, demi menjaga NKRI. Jika tak menghormati adat setempat, ya siap-siap saja bila suatu saat didemo atau malah digerebek.

Kirman, 27, warga Kabupaten Tebo (Jambi) memiliki WIL seorang janda bernama Nurhalizah, 35, warga Renah Pamenang Kabupaten Merangin. Meski berjarak puluhan kilometer dari rumah, atas nama cinta Kirman siap saja apel ke rumah si janda.

Tapi namanya apel, mestinya jika malam hari cukup sampai pukul 21.00. Tapi Kirman ini lain, katanya apeli janda, tapi seperti ronda di Pos RT saja, bedug subuh baru pulang. Lalu ngapain saja di rumah Nurhalizah, coba? Jangan salahkan warga jika mereka terpaksa suuzon, bukan khusnuzon, apa lagi fadlizon.

Janda Nurhalizah memang lumayan cantik, bodi seksi pula. Banyak warga setempat yang sebetulnya tertarik pada janda itu. Tapi sadar bahwa pacari tetangga sama saja berak di rumah sendiri, mending jadi pengamat saja. Walhasil janda cantik itu ibaratnya ikan hias di akuarium, enak dilihat tapi tak enak dimakan. Padahal kalau kepepet, digoreng bumbu kecap gurih juga.

Dan inilah Kirman warga Kabupaten Tebo. Di rumah sudah ada istri, masih juga tertarik pada Nurhalizah. Bisa dipastikan seminggu sekali, antara pukul 20.00 sampai pukul 04.00 subuh, dia apel sekaligus nginep di rumah si janda. Coba, apa yang diperbuat mereka. Bagi lelaki usia 17 tahun ke atas pasti tahulah; Kirman ke situ karena juga mencari kelonggaran.

Warga selalu memperhatikan, setiap pulang dari rumah Nurhalizah, langkah Kirman selalu tegap dan mantap seperti Wagub DKI habis lari pagi. Maklumlah, ibarat mobil kan baru saja diservis, tune up sampai ganti olie dan sporing balansing, tentu saja jalannya semlintir.

Tapi lama-lama warga risih juga, memangnya kampung ini pangkalan mesum? Warga lapor Pak RT, mohon petunjuk dan langkah apa yang harus dilakukan. Ternyata Pak RT sepaham dengan warga, pasangan mesum itu harus digerebek. Tapi Pak RT wanti-wanti, harus ada dua alat bukti cukup. “Kalau tidak, kita dipraperadilankan, bisa kalah kita,” kata Pak RT lagaknya seperti komisioner KPK saja.

Begitulah, beberapa malam lalu kembali Kirman masuk ke rumah Nurhalizah sampai larut malam. Warga pun mengetuk pintu, tapi tak kunjung dibuka. Begitu didobrak, didapatkan di kamar Kirman- Nurhalizah berbuat bak suami istri. Pakaiannya bertebaran entah ke mana, satu di Sabang satunya di Merauke.

Keduanya lalu digiring ke Balaidesa. Keduanya kena sanksi adat, barus membayar dengan seekor kerbau ditambah beras 100 gantang (setara 2,8 kuital). Ketimbang dilaporkan polisi dan diketahui keluarga di rumah, Kirman memilih bayar denda itu, entah bagaimana caranya.

Bayar pakai BPJS bisa nggak? (JPNN/Gunarso TS)