Thursday, 23 November 2017

Ini Persiapan ‘Ngundhuh Mantu’ Kahiyang-Bobby di Medan

Kamis, 9 November 2017 — 13:45 WIB
Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution.(instagram)

Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution.(instagram)

JAKARTA – Pernikahan Kahiyang Ayu dengan Muhammad Bobby Afif Nasution usai sudah. Namun, dalam adat Jawa, masih ada rangkaian acara ngundhuh mantu, yakni mendatangkan sepasang pengantin baru tersebut yang dilakukan oleh dan ke keluarga pengantin pria.

Menariknya , kali ini pihak yang ngundhuh mantu adalah pihak orang tua Bobby yang berlatar budaya Batak (Mandailing). Menurut rencana, ngundhuh mantu ini  akan digelar dengan adat Batak tersebut, informasinya masih pada 24 November 2017.

Dalam adat Jawa sendiri, ngundhuh mantu adalah mendatangkan pengantin baru di rumah keluarga pria setelah sepasar (sepekan/5 hari) tinggal bersama keluarga pengantin wanita. Ngundhuh asal kata dari undhuh = memetik (buah).

Masa pengantin anyar pada umumnya berlangsung sepasar lamanya, yakni sejak upacara panggih sampai 5 hari sesudahnya. Setelah berjalan sepasar (atau ada yang selapan), berakhirlah masa pengantin anyar, ditandai dengan upacara sepasaran pengantin yang diselenggarakan pihak keluarga pengantin wanita.

Sejalan dengan adat yang berlaku, usai upacara sepasaran, sepasang pengantin diundhuh oleh keluarga pengantin pria untuk tinggal beberapa waktu di keluarga itu.

Pesta adat dalam tradisi Jawa ‘Ngunduh Mantu’ Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu juga akan digelar di Medan, Sumatera Utara. Pesta adat dan resepsi Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu dipusatkan di Kompleks Bukit Hijau Regency, Medan.

Renacana ngundhuh mantu di Medan terus dimatangkan. Saat ini sudah berdiri tenda pernikahan Kahiyang Ayu-Bobby Nasution. Tenda tersebut seluas 20 x 70 meter itu berdiri di samping rumah Bobby Nasution.

Di tenda berukuran 20 x 70 meter yang saat ini dalam proses finishing terdapat sekitar 18 titik posisi, mulai dari perlengkapan logistik atau hidangan untuk para tamu hiburan yang akan ditempatkan di tenda.

Pantauan Pos Kota, terlihat sejumlah pekerja semangat untuk menuntaskan pemasangan tenda tersebut. Dalam prosesi pernikahan itu, Kahiyang Ayu akan diberi marga Siregar.

Dari informasi yang diperoleh, perencanaan tranportasi penjemputan undangan dari parkir ke lokasi pesta telah dirancang dengan matang. Juga, dari akses masuk menuju tenda diawali registrasi umum menuju ke stan makanan di dalam tenda.

Disiapkan pula petunjuk dan jalur memposisikan tamu menuju pelaminan untuk bersalaman dengan pengantin dan keluarga mempelai. Dapur dan catering ditempatkan di bagian paling belakang, sedangkan pelaminan dan jalan keluar tenda dibuat searah. Tak lupa penempatan toilet tepat di luar tenda di jalur untuk keluar meninggalkan tenda.

Adapun posisi parkir undangan menuju Kompleks Bukit Hijau Regency juga tengah dalam tahap perampungan lahan parkir berada di luar kompleks berjarak sekitar 400 meter dari lokasi pesta.

Dalam acara ngundhuh mantu di Medan dijadwalkan ada pemberian marga. Dalam adat Jawa, saat ngundhuh mantu ada kebiasaan yang disebut  “pemberian nama baru” atau asma sepuh bagi pengantin baru.

Pemberian nama baru biasanya diambilkan dari unsur nama orang tua pengantin pria dan unsur nama orang tua pengantin putri dan dapat dilakukan manakala pengantin baru belum diberi jeneng tuwa pada waktu upacara sepasasran, serta berdoa dan makan bersama antardua keluarda yang sudah menjalin kekerabatan (besanan).

(samosir/win)