Thursday, 23 November 2017

MANUSIA JAKARTA

Kamis, 9 November 2017 — 5:06 WIB

Oleh H Harmoko

JAKARTA tak sekadar ibukota negara. Jakarta bisa banyak cerita tentang apa saja, tentang manusia-manusia dengan aneka perilakunya, tentang perbuatan berikut akibat positif dan negatifnya. Apa sesungguhnya yang terjadi, ketika ujaran kebencian seolah terus terpelihara?

Manusia, benci, dan cinta, selalu menyatu? Bisa jadi. Tetapi, mari kita berbicara tentang cinta dan manusia-manusia Jakarta. Maka, kita bisa mengurai begitu banyak cerita, kisah, dan drama di sana. Bagai tak bertepi. Jakarta yang heterogin dihuni oleh lebih dari sepuluh juta jiwa, maka wajar di sana akan terurai banyak ragam kisah yang begitu kompleks.

Mengingat sebegitu banyak masalah di Jakarta, benar kata banyak orang, siapa pun akan menghadapi ujian dalam mengelola emosi. Mengapa? Karena, emosi kejiwaan seseorang konon mempengaruhi kualitas rasionya. Kualitas rasio ini akan menentukan mampu atau tidaknya seseorang memformat logikanya.

Format logika yang kurang baik, tentu, akan membuat seseorang tidak lagi mampu melihat kenyataan dan tidak lagi bisa menerima pendapat orang lain. Banyak hal disikapi dengan pendekatan suka atau tidak suka. Benci atau tidak benci. Yang terjadi, seseorang akan merasa memperoleh kepuasan psikologis kalau sudah bisa menyakiti perasaan orang lain.

Di mana cinta? Di mana kasih sayang? Ini soal rasa. Kehidupan yang semakin dinamis dengan segala kompleksitasnya membuat banyak orang merasakan cinta dan kasih sayang rasa Jakarta. Rasa itu mengaduk-aduk dan mencabik-cabik di antara hati nurani dan ego.

Dalam situasi seperti itu, Jakarta memang membutuhkan sosok-sosok pemimpin yang bisa memberikan kesejukan bagi siapa pun. Tak hanya Gubernur dan Wwakil Gubernur, tetapi juga pemimpin instansi lain, baik Pangdam maupun Kapolda. Tak hanya pemimpin formal, tetapi juga pemimpin nonformal, termasuk tokoh-tokoh agama.

Mengapa begitu? Karena, pada dasarnya, semua orang punya cinta, punya kasih sayang, tanpa memandang jenis kelamin, kedudukan, status sosial. Cinta dan kasih sayang datang dari sanubari, diungkapkan oleh perasaan kepada orang-orang di sekitarnya. Apa pun yang terjadi, pendekatan cinta dan kasih sayang insyaallah bisa membuat kehidupan sosial kemasyarakatan menjadi lebih nyaman.

Tentu tidak mudah, tetapi bukan tak mungkin bisa dilakukan. Masalahnya, tentu, kita kembalikan kepada masing-masing manusianya, kepada sanubarinya. Ini sebuah frasa yang belakangan kian hilang, menguap bersama debu dan belantara Jakarta yang konon lebih kejam daripada ibu tiri itu.

Ketika Gubernur Anies Baswedan berulang kali mengatakan bahwa pembangunan manusia akan menjadi priotitas dalam menangani Jakarta, maka tidak ada pilihan lain, apa pun persoalan yang terjadi haruslah dihadapi dengan pendekatan kemanusian, dengan cinta dan kasih sayang. Dengan begitu, Jakarta ke depan tak harus lebih kejam daripada ibu tiri. Insyaallah. *