Thursday, 23 November 2017

Jadi Penjahat, No!

Jumat, 10 November 2017 — 6:18 WIB
tangkap

MAU banting stir, hari ini? Mau jadi apa? Jadi penjahat? Hehehe, ini sih ide gila ya? Membayangkan saja untuk berniat jahat, ya baru niat saja, sesuai agama, nggak boleh. Dosa itu!

Belum lagi soal sanksi yang bakalan diterima di dunia. Menanggung malu, kalau yang punya malu. Bakalan mendapat hukuman, dikerangkeng, dan masih banyak lagi kerugian yang didapat jika melakukan kejahatan dan ketahuan aparat hukum.

Nah, kembali soal keinginan jadi penjahat. Penjahat itu memang harus punya nyali. Nyali nggak takut sakit atau mati kalau ketahuan digebuki massa, babak belur berdarah-darah.

Nih, ada yang coba-coba jadi penipu. Seorang lelaki nipu aparat, mengaku sepeda motornya dirampok. Dia pikir aparat polisi percaya begitu saja. Dan benar, kecurigaan petugas terbukti. Si lelaki ’korban’ perampokan itu bohong belaka. Motor yang katanya dirampas penjahat, ternyata digadaikan? Hemm, ini namanya akal-akalan, alias akal bulus.

Ada lagi di Jakarta seorang wanita muda, jadi ‘calo’ tenaga kerja. Dia mengaku sangggup memasukan pegawai di DKI asal ngasih sogokan? Nah, yang nggak masuk akal adalah bahwa para calon tenaga kerja ini kok percaya, ya? Malah memberi uang jutaan rupiah?

Kan seharusnya mereka yang berpendidikan ini pahamlah, di era sekarang ini penerimaan karyawaan resmi diumumkan melalui media cetak atau elektronik. Dan kayaknya aparat penerima pegawai juga nggak mau mengambil resiko penyelewengan dengan minta sogokan?

Atau barangkali masih ada yang begitu? Hemm, nggak tahu deh! Tapi mari hidup bersih. Kalau mau banting setir, ayo setir jalan yang baik. Bukan jadi penjahat. Oke? -massoes