Friday, 21 September 2018

Diskusi Gali Potensi

Miing: Cisadane Bak Gadis Cantik Seksi, Kurang Didandani

Jumat, 10 November 2017 — 10:09 WIB
miing

TANGERANG (Pos Kota) – Sungai Cisadane yang menjadi kebanggaan masyarakat Tangerang begitu seksi jika dikuliti dilihat dari segi potensi. Cisadane yang mengalir mulai dari pegunungan di Bogor, menjadi berkah bagi warga Tangerang, ini yang harus diangkat potensinya.

Hal tersebut diperbincangkan dalam acara Coffee Morning di Flying Deck Cisadane, Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Kamis (9/11/2017).

Dalam diskusi ini dihadiri sejumlah narasumber. Di antaranya Mukafi Solihin sebagai budayawan, Kabid Dinas Pariwisata Kota Tangerang Rizal Ridolloh, dan Dirut PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang Sumarya. Mereka pun berinteraksi langsung dengan ratusan mahasiswa dari Universitas Syekh Yusuf Tangerang membahas perbincangan ini.

“Pada diskusi ini kami menggali potensi Cisadane sebagai wisata alam dan membedahnya dari sudut pandang budaya serta sejarah,” ujar Andika Panduwinata selaku inisiator acara tersebut saat ditemui di Flying Deck Cisadane, Kota Tangerang, Kamis (9/11/2017).

Mukafhi Solihin yang merupakan budayawan asal Tangerang menjelaskan mengenai sejarah Cisadane. Ia mengungkapkan Sungai Cisadane pada jaman dahulu tampak seksi.

“Cisadane memang dulunya menjadi produk ekonomi oleh warga sekitar. Pada masa penjajahan Belanda, sungai ini dijadikan jalur transportasi pengiriman barang – barang dan menjadi sumber mata pencaharian. Sehingga banyak masyarakat yang sangat membutuhkan Sungai Cisadane ini,” ucap pria yang akrab disapa Miing.

Miing menganologikan Cisadane sebagai gadis cantik yang seksi namun kurang didandani oleh pemerintah setempat. Ia menyatakan pemerintahan Kota Tangerang belum terlalu peka untuk menjadikan Cisadane menjadi potensi wisata.

“Harusnya masyarakat ikut dilibatkan dalam segi pengembangan pariwisata yang dibangun di sekitar Cisadane,” imbuhnya.

Terlebih lagi Cisadane harus dilestarikan dan dipromosikan dengan mengedepankan kearifan lokal. “Pemerintah juga kurang memperhatikan lingkungannya dan upayakan dalam membangun itu jangan merusak ekosistem. Sebab alam akan mengoreksi diri jika terjadi pengrusakan, contohnya saja bisa menimbulkan banjir,” kata Miing. (imam/win)