Thursday, 23 November 2017

Pernikahan Agung dalam Keindonesiaan

Jumat, 10 November 2017 — 6:50 WIB
mantu

BANYAK hal yang menarik melihat acara pernikahan putri Jokowi, Kahiyang Ayu yang disunting pemuda pilihannya, Bobby Nasution di kota Solo, yang ramai disiarkan langsung sejumlah stasiun teve dan menjadi viral di media sosial.

Bagi saya yang paling berkesan adalah: Keindonesiaan! Parade baju Nusantara di depan iring-iringan delapan kereta pengantin dan keluarganya itu merupakan simbol Parade Nusantara dan penegasan Keindonesiaan kita.

Sesungguhnya parade itu tak ada dalam “ritual” pernikahan adat Jawa, tapi “improvisasi” penambahan acara itu, sungguh menggetarkan.

Pak JK, Wapres kita, datang dengan baju adat Bugisnya, dan dia hadir di tengah upacara, karena menjadi saksi. Putri Jokowi, yang berayah-ibu Jawa Solo disunting pria Batak – bermarga Nasution. Rame di media sosial, aneka postingan unik, antara lain: Jangan maen maen sama orang Batak, dek. Putri Presiden pun meleleh dibuatnya…” Alamaak…

Keindonesiaan kita semakin lama semakin erat, dan saat ini atau ke depan, upaya merusak hubungan dengan konflik antarsuku semakin kecil kemungkinannya. “Saya orang Makasar dan istri saya orang Padang. Bagaimana bisa perang antarsuku? “ demikian kata DR Salim Said, pengamat militer kondang. Anak-anak yang lahir dari perkawinan dua suku, otomatis berkerabat dari dua suku. Dari pihak keluarga besar ayah maupun ibu.

Ada banyak orang Aceh yang menikah dengan orang Jawa, orang Jawa menikah dengan orang Kalimantan, dengan Ambon dan lainnya. Begitulah terkait kait satu sama lain.

Selain itu, upacara adat pernikahan itu juga merupakan ekspose dan kampanye bahwa betapa kita sungguh kaya dengan warisan budaya, yang eksotis dan unik. Kita beda dengan negeri jiran, negara manca lain.

Kita tak perlu mengimpor budaya asing untuk menjadi keren. Kita punya identitas sendiri. Tidak perlu menjadi kebarat-baratan dan atau kearab-araban. Sama naifnya, baik dengan bungkus modernisasi maupun agamisasi. Indonesia sudah punya warisan budaya yang indah dijadikan identitas sendiri dalam bingkai NKRI

Tuhan yang Maha Kaya telah menjadikan kita, manusia berbeda satu dengan yang lain. Jangankan dengan Arab, Cina dan Bule, di antara Jawa dan Dayak, Ambon, Madura saja beda. Uniknya kita bisa kompak dalam keindonesiaan.

Kita masih menunggu satu upacara lagi, melanjutkan keindahan pernikahan agung di Solo. Yakni upacara dalam adat Batak, Tapanuli Selatan dari Keluarga Nasution. Saya yakin keluarga Tapanuli sama bangganya dengan orang Jawa dengan Royal Wedding ini. –dimas