Saturday, 25 November 2017

Media Sosial Disebut Picu Tingginya Tingkat Bunuh Diri di Jepang

Sabtu, 11 November 2017 — 8:54 WIB
Tingkat depresi yang tinggi menjadi salah satu pemicu keinginan untuk bunuh diri. (reuters)

Tingkat depresi yang tinggi menjadi salah satu pemicu keinginan untuk bunuh diri. (reuters)

JEPANG – Kasus penemuan sembilan mayat yang termutilasi dalam sebuah pendingin di apartemen pinggiran kota Tokyo, menghentak publik. Dalam penyelidikan polisi terungkap, jika tersangka pelaku, Takahiro Shiraishi, bertemu korbannya melalui media sosial.

Dilansir BBC, Sabtu (11/11/2017), polisi juga berhasil menarik benang merah dalam kasus ini. Setelah ditelusuri, para koban memiliki kesamaan, yaitu mereka semua pernah mengungkapkan keinginannya untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.

Fakta ini, mendesak pemerintahan Jepang untuk segera mengambil tindakan dengan menutup situs-situs yang menyediakan wadah bertukar pikiran tentang cara bunuh diri.

Situs semacam itu, biasanya mendorong orang lain untuk mengakhiri hidup mereka sendiri. Kepala pusat pencegahan bunuh diri yang berbasis di Tokyo, Toru Igawa, mengatakan kepada Japan Times bahwa internet telah memperburuk keadaan bagi orang muda di Jepang.

Dia mengatakan bahwa sebelumnya, beberapa orang telah terpancing untuk bunuh diri karena mereka tidak ingin mati sendiri. Namun, situs-situs bunuh diri berhasil merubah pandagan tersebut.

“Sekarang memutuskan hal tersebut (bunuh diri) seakan tampak lebih mudah, karena mereka merasa memiliki teman,” ujarnya.

Sebuah studi di Inggris yang dilakukan apda tahun 2015 menemukan, jika 20 % pelaku bunuh diri diketahui sudah mengunjungi situs-situs bunuh diri sebelum akhirnya memilih mengakhiri hidup mereka.

Menghadapi masalah ini, Sekretaris Kabinet, Yoshihide Suga, telah menginstruksikan menteri untuk segera mengambil tindakan terhadap “situs bunuh diri” dan media sosial.

“Sulit memang untuk mengawasi satu-persatu pengguna media sosial, dan mencari mereka yang menulis atau memberi tanda tentang niatan bunuh diri,” ujar Suga. “Tapi, kita harus bisa mengatasi hal ini hingga ke dasarnya, dan berusaha melakukan pencegahan (bunuh diri),” sambungnya.

Suga telah meminta menteri untuk mempelajari penyebaran situs web bunuh diri, dan bekerja sama dengan operator web dan pihak berwenang.

Menurut statistik Organisasi Kesehatan Dunia, di Jepang, sekitar 19,7 per 100.000 orang, memilih untuk mengakhiri hidup mereka pada tahun 2015.  Namun, itu bukanlah angka tertinggi di dunia.

Korea Selatan, menempati posisi puncak dengan 28,3 per 100.000 orang, melakukan bunuh diri di tahun yang sama.

Bagaimana mencari bantuan jika rasa depresi dan keinginan bunuh diri muncul? Dekatkan diri kepada Tuhan, berbicara dengan orang terdekat, dan berkonsultasilah dengan praktisi medis. (embun)