Thursday, 23 November 2017

Uang Kos-kosan Buat Dugem, Rumahtangga Berantakan

Sabtu, 11 November 2017 — 7:30 WIB
maboklagi

JADI lelaki nganggur, Saiman, 50, masih doyan pula main perempuan. Uang hasil kos di rumah kontrakan habis untuk perkara selangkangan dan mabuk-mabukan. Tentu saja Novi, 44, tidak tahan, sehinga milih cerai saja. Dia berhatap dapat pembagian harta gana-gini dari aset suamnya senilai Rp 2 miliar. Akankah berhasil?

Biar punya harta miliaran, jika sehari-hari petentang-petenteng tanpa kerja, lama-lama habis juga. Maka seperti perintah Presiden Jokowi, pengemban amanat Revolusi Mental harus siap kerja dan kerja. Dengan cara demikian ketahahan ekonomi rakyat bisa segera dirasakan. Tak selalu menuntut pemerintah menciptakan lapangan kerja baru.

Saiman warga Surabaya, sejak kena PHK 15 tahun lalu, tak semangat lagi mencari kerja. Untuk makan sehari-hari hanya mengandalkan uang kos-kosan 15 pintu di rumahnya yang senilai Rp 2 miliar. Itu rumah hasil pembagian warisan dari orangtua. Dengan uang kos Rp 600.000,- sebulan, sebetulnya Rp 9 juta cukup untuk menghidupi keluarga. Asalkan hidup secara sederhana.

Tapi Saiman ini lain. Ketika usia menginjak kepala 5 justu tambah hobi baru, mabuk-mabukan dan main perempuan. Walhasil uang hasil kontrakan sering ludes untuk beli bir dan memanjakan cewek yang diincarnya. Bahkan kadang-kadang, uang kos bulanan diambil duluan demi memanjakan syahwatnya.

Lama-lama Novi menciumnya, karena uang belanja mulai berkurang. Ternyata suamiya memang suka main perempuan. Dia sudah menegur suami, tapi tidak digubris. Maklum, Novi sangat takut suami kena penyakit kotor dan menulari akan dirinya.

Karena Saiman tak bisa dinasihati, Novi menggugat cerai. Dia berharap akan mendapatkan harta gona-gini dari harta suami, dan uang itu akan dibuat modal usaha untuk menghidupi ketiga anaknya.

Kantong kosong masih manjakan si entong. (JPNN/Gunarso TS)