Saturday, 25 November 2017

Setelah Vakum Puluhan Tahun, Kuwu Karangasem Gelar Sedekah Bumi

Minggu, 12 November 2017 — 8:50 WIB
Ilustrasi warga mengarak hiasan  Harimau Loreng atau Macan Belang meramaikan upacara adat Sedekah Bumi dan    Munjung Buyut Kati Garon di Blok Cilet Desa Karanganyar beberapa waktu  lalu. (taryani)

Ilustrasi warga mengarak hiasan Harimau Loreng atau Macan Belang meramaikan upacara adat Sedekah Bumi dan Munjung Buyut Kati Garon di Blok Cilet Desa Karanganyar beberapa waktu lalu. (taryani)

INDRAMAYU (Pos Kota) – Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya Desa Karangasem, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat setiap mendekati awal musim tanam padi rendeng, tidak melaksanakan upacara adat Sedekah Bumi, sebagaimana yang diulaksanakan di desa-desa lain di Kabupaten Indramayu.

Kuwu (Kepala Desa) Karangasem Waskiyah mengakui Desa Karangasem sejak berpuluh-puluh tahun lalu, tidak pernah mengadakan upacara adat Sedekah Bumi setiap mendekati awal musim tanam padi rendeng.

Hal itu katanya hendaknya dapat dimaklumi. Sebab Desa Karangasem mayoritas penduduknya adalah pedagang yang mencapai 70 persen, sedangkan petaninya hanya 30 persen. “Jadi wajar bila di Desa Karangasem saat itu tidak melaksanakan upacara adat Sedekah Bumi,” katanya.

Lantaran Desa Karangasem sudah lama tak menyelenggarakan upacara adat Sedekah Bumi, maka upacara adat Sedekah Bumi di Desa Karangasem itu boleh dibilang nyaris punah.

“Tapi itu semua sebenarnya tergantung Kuwunya. Kuwu mau mendengarkan aspirasi masyarakat atau tidak. Kalau mau bermasyarakat sebetulnya masyarakat itu tidak susah diajak melaksanakan kegiatan upacara adat Sedekah Bumi yang bersifat positif itu,” katanya.

Karena selalu mendengarkan aspirasi masyarakat, maka menjelang musim tanam padi tahun 2017 di Desa Karangasem menyelenggarakan upacara adat Sedekah Bumi. “Ketika masyarakat diajak melaksanakan kegiatan Sedekah Bumi ternyata berlangsung sangat meriah. Bahkan mengalahkan kemeriahan desa lain,” ujarnya.

Saat upacara adat Sedekah Bumi itu dilaksanakan di Desa Karangasem, katanya masyarakat menyambut dengan antusias. Mereka tumpah ruah turun ke jalan, ramai-ramai mengikuti pawai atau arak-arakan berkeliling dari satu wilayah perbatasan ke wilayah perbatasan lain yang diiringi berbagai jenis hiburan dan hiasan.

Ada dangdutan, juga ada Seni Kuda Renggong yang dilengkapi dengan 3 ekor kuda sungguhan ikut mengiringi arak-arakan. tiga ekor kuda itu dinaiki Camat Terisi Achmad Mansyur, Kapolsek Terisi dan Kuwu Karangasem Waskiyah.

Hebatnya, biaya yang digunakan upacara adat Sedekah Bumi itu berasal dari masyarakat. “Kuwu hanya nyumbang untuk biaya pertunjukkan Wayang Kulit “Budhi Suara” dari Gegesik Kabupaten Cirebon. Mudah-mudahan tahun depan upacara adat Sedekah Bumi di desa ini makin suskes lagi,” katanya.

(taryani/sir)