Thursday, 23 November 2017

Jakarta, Kok… Masih Jorok?

Senin, 13 November 2017 — 5:40 WIB
stasiunkota

SETIAP hari saya bekerja menggunakan kereta api Commuter Line Jabodetabek, turun di Stasiun Tanah Abang dan menjelang tengah malam melalui Stasiun Jakarta Kota. Ada persamaan dari dua stasiun itu, yaitu keduanya sama sama stasiun besar, dan sama sama jorok.

Jorok bukan di dalam stasiunnya melainkan di luarnya. Manajemen kereta api Commuter Line, sudah reformatif, bersih bersih dan memodernisir pelayanannya. Sedangkan di luar wilayah stasiun – wilayah tugas Permprov DKI Jakarta tidak sama sekali. Masih sama dengan 10 bahkan 20 tahun lalu. Tetap kumuh dan jorok.

Padahal Tanah Abang adalah pintu masuk bagi warga daerah dan luar kota, sedangkan Jakarta Kota banyak dikunjungi orang asing. Pintu gerbang Indonesia adalah Jakarta dan Jakarta Kota, dimana museum besar ada di sana. Salahsatu spot menarik. Namun kesan yang terekam begitu melihat kota ini adalah kumuh dan jorok. Baik siang maupun malam.

Di hari Minggu lalu, saya datang ke Kota Tua, ke kawasan Museum Fatahillah, dan sangat padat pengunjungnya dan lagi-lagi mendapati pemandangan menyebalkan di sana yaitu sampah berserakan. Dan warga yang cuek membuang sampah seenaknya.

Seharusnya pengelola di sana menyediakan tempat sampah, rajin kampanye pentingnya menjaga kebersihan, memasang rambu, dan menyediakan petugas yang intens berkeliling. Menjatuhkan sanksi bagi pelanggarnya.

Seorang teman wartawan yang baru pulang dari Vietnam, Laos dan Thailand menyatakan, seperti Indonesia, di sana juga ada Kaki-5. Ada pedagang jualan di trotoar. Perbedaannya dengan Jakarta adalah di sana tertata rapi dan bersih. Pemprovnya oke. Kaki-5 di sana tahu aturan dan tidak jorok.

Gubernur DKI Jakarta dan wakilnya yang baru dilantik boleh saja punya program kerja melambung-lambung, bakal bikin perubahan ini dan itu, tapi kalau Kota Jakarta dibiarkan kumuh dan jorok, artinya kita masih jauh dari gambaran kota maju.

Kita punya modal sebagai warga yang bersih. Sebagai penduduk muslim terbesar kita punya dalil, “Kebersihan sebagian dari iman”. Nyatanya, iman kita kurang, bahkan untuk sekadar menjaga kebersihan.

Pemimpin dan warga Singapura dan Jepang entah apa yang diimani mereka, yang nyata negeri Kota Singapura dikenal karena kebersihannya. Begitu juga kota-kota di Jepang.

Pada masa gubernur “zaman old” memang Jakarta sempat bersih, kali kali dikeruk, dan kinclong, trotoar dan jalanan terawat. Ada pasukan kuning. Kini di era gubernur “zaman now”, pasukan kuning belum ‘jelas’. Penyakit lama kumat lagi. Jakarta kumuh lagi. Pegimane, Bang? -dimas