Thursday, 23 November 2017

Pengin Punya Anak Sendiri Hanya Dapat Kelonggaran

Senin, 13 November 2017 — 5:29 WIB
daripada

AWALNYA Darmadi, 32, mau menikahi janda Suryati, 43, karena juga berharap bisa punya anak sendiri. Ternyata istri sudah ogah momong bayi. Darmadi pun menyesal, menikahi janda menjelang kepala 5 hanya mendapat kelonggaran belaka. Mumpung masih muda, Darmadipun mengajukan gugatan cerai.

Bujangan menikahi janda lebih tua dan beranak dua, sering jadi ledekan orang. Seperti sudah kehabisan stok perempuan saja, sehingga janda pun dikawini. Padahal setiap orang punya alasan dan pertimbangan sendiri-sendiri, kenapa mau menikahi janda yang lebih tua darinya. Bisa karena cinta, bisa karena mau numpang hidup, bisa juga karena ingin dapat kelonggaran.

Darmadi warga Gunungsari, memang termasuk lelaki elit dalam arti: ekonomi sulit. Sampai usia kepala 3 belum juga punya istri, akibat pekerjaan tidak jelas. Mana mau orangtua punya mantu panji klanthung. Mau dikasih makan apa anaknya? Orangtua cap apapun pasti tak rela jika anaknya kemudian kawin dengan lelaki pengikut aliran kebatinan, alias hanya mampu memberikan nafkah batin buat istrinya.

Untuk punya penghasilan sekedarnya, Darmadi mencoba jualan beras kecil-kecilan. Dari sini dia kemudian kenal dengan janda juragan beras langganannya. Namanya Suryati. Dari hubungan dagang itu akhirnya menjelma jadi hubungan cinta yang di kemudiannya akan sampai juga ke hubungan intim.

Suryati mau saja dinikahi oleh Darmadi yang tak jelas pekerjaannya tersebut. Sebagai juragan besar yang memiliki juga nafsu besar, dia merasa kesepian sejak ditinggal mati suami beberapa tahun lalu. Sepertinya dia cocok dengan lelaki ini, meski jauh lebih muda. Ny. Suryati berharap, yang penting tongkrongan Darmadi berbanding lurus dengan “tangkringan”-nya.

Meski diolok-olok sejumlah teman, jadi juga Darmadi mempersunting janda yang berusia 11 tahun lebih tua itu. Sejak menjadi suami Suryati, dia tinggal menjadi satu di rumah istri. Anak-anak yang sudah ABG, tak masalah dengan kehadiran bapak baru. Karena bagi kedua anak itu, yang penting: maju ekonominya, bahagia ibunya.

Sejak jadi suami Suryati, tugas Darmadi menjadi ganda. Siang bantu jualan beras di pasar besar, malam melayani nafsu besar sang istri. Tapi karena sampai 2 tahun perkawinan belum juga punya momongan, Darmadi menegaskan niatnya itu. “Mama tak usah KB-KB-an, karena saya ingin punya anak.” Kata Darmadi.

Ternyata mereka beda persepsi dalam membina rumahtangga. Darmadi ingin adanya keturunan, sedangkan Suryati sudah malas mengurusi bayi kecil. Maka kini baginya punya suami hanya untuk pemuas gairah saja di ranjang. Bahkan sekali waktu dia pernah bilang pada suami barunya itu. Katanya, pekerjaan tak terlalu diharap benar, yang penting di ranjang Darmadi bisa: kerja, kerja, kerja!

Darmadi menyesal sekali menikahi Suryati. Jadi nilai tambah apa yang diperoleh menikahi janda juragan beras itu kecuali hanya dapat kelonggaran? Maksudnya adalah: jadi pengangguran tidak apa, bisa dimaklumi. Tapi sebagai suami yang mendambakan keturunan, tekad istrinya itu justru sangat bersebarangan, bukan keberpihakan.

Ketimbang menyesal seumur hidup punya istri yang tak mau punya anak, akhirnya Darmadi menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya. Ternyata gugatan itu dikabulkan. Dengan modal surat cerai itulah Darmadi ingin menikah lagi dan berharap punya momongan sendir.

Ingat, penyakit miskin rawan penolakan bagi kalangan wanita. (JPNN/Gunarso TS)