Saturday, 25 November 2017

PERANAN BERSELUBUNG

Senin, 13 November 2017 — 5:32 WIB

Oleh H. Harmoko

TIADA hari tanpa kegaduhan di Indonesia. Tetapi, kegaduhan yang muncul itu bak riak-riak yang muncul di hilir. Mengapa kita tidak mencoba menengok hulunya?

Iya, kegaduhan di hilir seperti sentimen anti-Cina, misalnya, atau konflik antarmazab dalam agama, isu benturan antarormas, dan lainnya, membuat kita abai terhadap hulu persoalan. Dari hulu itulah, sejatinya, ada tangan-tangan tak kasat mata bermain.

Mungkin ada baiknya kita camkan pernyataan pengamat geopolitik dari Global Future Institute, M. Arief Pranoto, tangan-tangan tak kasat mata itu merancang kegaduhan publik melalui isu-isu di wilayah hilir. Apa tujuannya? Tujuannya tak lain untuk membuat penyesatan agar segenap anak bangsa abai terhadap invasi senyap yang tengah mereka lancarkan.

Tengok, misalnya, siapa sekarang yang mau peduli terhadap invasi RRC melalui program Turnkey Project Management? Inilah skema investasi asing yang disukai RRC dalam membangun program One Belt One Road (OBOR). Ciri utama investasi ini adalah mulai dari uang, manajemen, materiil, marketing, tenaga ahli hingga tenaga kasar berasal dari RRC.

Dalam perspektif geopolitik, Arief Pranoto mengingatkan bahwa Turnkey Project Management melalui program OBOR merupakan pola Xi Jinping dalam kerangka meluaskan ruang hidup negaranya.

Tak bisa dipungkiri, RRC dalam batas tertentu menerapkan model satu negara dengan dua sistem (komunisme dan kapitalisme). Di satu sisi model ini mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya, namun di sisi lain juga meningkatkan jumlah pengangguran.

Mengapa bisa begitu? Dalam sistem ekonomi komunis, yang kaya itu negaranya. Mayoritas rakyat miskin. Sebaliknya, ciri ekonomi kapitalis: yang kaya sekelompok rakyat (elite), sedangkan negara dan mayoritas warganya biasa-biasa saja.

Begitu RRC mengombinasi dua ideologi itu, bisa ditebak, rakyat yang berjumlah 1,6 miliar jiwa hanya sedikit yang menikmati kue ekonomi, yakni elite negara dan elite swasta.

Oleh karena itu, ledakan penduduk dan pengangguran menjadi keniscayaan di RRC. Mengingat manusia butuh negara dan negara butuh ruang, OBOR pun menjadi program ambisius RRC. Ini sekaligus untuk mewujudkan dunia dalam satu sabuk (one belt) ekonomi dan satu jalur (one road) di bawah kendali RRC.

Model investasi Turnkey Project Management memang bisa mempercepat pembangunan infrastruktur di negara kita, tetapi harus kita waspadai adanya agenda tersembunyi. Bak tipu daya kuda troya, proyek ini bukan tidak mungkin sebagai cara efektif bagi RRC untuk memasukkan kekuatan militer ke wilayah kedaulatan Indonesia.

Dengan begitu, kelak RRC bisa menguasai serta mengontrol simpul-simpul transportasi maupun ekonomi (pelabuhan, bandara, kereta api, dan lain-lain yang berkaitan dengan KEK). Dalam skema penjajahan, bukankah simpul transportasi harus terlebih dahulu dikuasai? Begitu pula pembangunan infrastruktur yang membutuhkan ribuan tenaga kerja. Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Sadarkah kita? ( * )