Tuesday, 18 December 2018

Yayasan Benyamin Sueb Gagas Pendirian Betawiisme

Senin, 13 November 2017 — 8:46 WIB
Ketua Yayasan Benyamin Sueb, Beno Rahmat Benyamin dan Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, Tatang Hidayat saat peresmian ‘Betawiisme’. (anton)

Ketua Yayasan Benyamin Sueb, Beno Rahmat Benyamin dan Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, Tatang Hidayat saat peresmian ‘Betawiisme’. (anton)

JAKARTA (Pos Kota) – Perkembangan pembangunan yang begitu pesat membuat keberadaan maupun pelestarian kesenian budaya Betawi semakin terkikis belakangan ini hingga membuat keprihatinan sejumlah tokoh Betawi termasuk Yayasan Benyamin Sueb dan Bens Radio menggagas ‘Betawiisme’.

Keberadaan dan kehadiran ‘Betawiisme’ atau “Saya Betawi dan Betawi adalah Saya” harus terus tumbuh di masyarakat khususnya warga Betawi yang tinggal di DKI Jakarta, kata Ketua Yayasan Benyamin Sueb, Beno Rahmat Benyamin didampingi Beni Pandawa Benyamin dan Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, Tatang Hidayat.

Kencangnya arus budaya internasional dan era modern tidak luput menjadi salah satu terkikisnya seni tradisional yang tentunya harus dipartahankan serta ditumbuh kembangkan untuk anak cucu di masa mendatang agar tidak punah. Namun semua itu kembali lagi ke masyarakat itu sendiri yang harus secara sadar mau tidak mau harus mempertahankan seni dan budaya asli yang ada.

Peranan pemerintah DKI Jakarta selaku alat control hendaknya dapat berperan aktif jangan hanya mengejar pembangunan fisik saja tapi pembangunan seni dan budaya yang ada juga harus dijaga, katanya sehingga kesenian dan tradisi buaya Betawi tetap tumbuh di masyarakat.

BANYAK BERALIH PROFESI

Kesenian dan budaya Betawi, tambah Beno Rahmat Benyamin merupakan salah satu cermin Pancasila sebagai salah satu dasar negara karena Budaya Betawi menyangkup masalah itu seperti menjaga persatuan dan kesatuan, kesejahteraan yang berkeadilan sosial dan menjadi salah satu perekat warga Jakarta yang berasal dari berbagai suku, bangsa dan agama.

Ditambahkan, Tatang Hidayat, diharapkan kehadiran Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru ini dapat menjaga serta melestarikan kesenian dan dan budaya Betawi agar tidak punah dimasa mendatang. Terlebih belakangan ini sanggar Betawi yang ada sepi order sehingga sebagian pekerja seni banyak yang beralih profesi untuk menafkahi keluarganya.

Tidak hanya beralih profesi pekerja seninya, tambah dia, namun keberadaan alat kesenian tradisional juga semakin minim seperti alat gambang kromong hanya tinggal 30 alat, grup Tanjidor hanya tiga grup dan keronsong hanya satu grup saja. Untuk sanggar budaya Betawi meliputi produk budaya, industry kreatif, tari, pencak silat, kuliner dan lainnya dari sebelumnya mencapai 300 sanggar di tahun 1980 an kini tinggal tersisa sekitar 150 sanggar di tahun 2017 ini.

Keberadaan program Betawiisme, Yayasan Benyamin Suaeb dan Bens Radio mengajak pihak-pihak terkait, berupaya mendukung pemerintah DKI Jakarta dalam upaya Pelestarian Seni Budaya Betawi dan Penguatan Ekonomi Masyarakat Jakarta, katanya.

(anton/sir)