Thursday, 23 November 2017

Bau dari Peternakan Sapi di Sungai Bambu Dikeluhkan Warga

Selasa, 14 November 2017 — 21:07 WIB
Lurah Sungai Bambu bersama dengan RT/RW, FKDM dan Sudin KPKP sedang melihat lokasi pembesaran sapi. (wandi)

Lurah Sungai Bambu bersama dengan RT/RW, FKDM dan Sudin KPKP sedang melihat lokasi pembesaran sapi. (wandi)

JAKARTA (Pos Kota) – Lurah Sungai Bambu, Sumarno dan petugas Sudin Kelautan Perikanan dan Ketahanan Pangan (KPKP), Jakarta Utara menindak lanjuti keluhan masyarakat. Keluhan ini terkait dengan adanya pembesaran sapi di Jalan Enim, No. 159 RT 04/10, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Tindak lanjut ini setelah adanya aspirasi warga yang dikirim ke redaksi Pos Kota yang menyebutkan.’Kepada. Yth. Bapak Lurah Sungai Bambu, Kec. Tanjung Priok, mohon di tinjau ke jalan Enim no 159 Rt 04/010 di wilayah kami ada yang bertenak sapi yang berada di lingkungan warga baunya sangat mengangu sekali, mohon ditindaklanjuti. Terima kasih. (089648139xxx)’.

Atas keluhan ini pihak Kelurahan Sungai Bambu langsung merespon dan menindak lanjuti keluhan tersebut. “Ia tadi kami bersama dengan ketua RT/RW, FKDM, Satpol PP dan Sudin KPKP melakukan pengecekan langsung terkait pengaduan warga adanya peternakan sapi. Dari hasil pengecekan ini, lokasi tersebut tidak menimbulkan bau, seperti yang dikeluhkan warga,”terang Sumarno, Selasa (14/11).

Meski begitu kata Lurah, pihaknya meminta kepada pemilik sapi untuk rutin melakukan pembersihan. Selain itu juga dihimbau untuk membelikan obat penghilang bau yang kurang sedap akibat kotoran sapi.

Ditambahkan oleh Sumarno, dari hasil keterangan Jasmuki,  pembesaran sapi mengaku kalau kelima sapinya ini tidak untuk dijual belikan. Tapi nanti jika sapi itu sudah besar dan musim haji tiba akan dijadikan kurban sehingga para pengurus masjid maupun mushola tidak akan kesulitan mencari hewan qurban lagi.

“Dari pengakuan pemelihatan sapi, menyebutkan bahwa sapi ini bukan miliknya tapi milik warga yang nantinya pada saat Idul Adha akan dijadikan kurban. Di lokasi itu hanya digunakan untuk pembesaran sapi sehingga jika musim lebaran qurban tidak kerepotan lagi mencari hewan qurban lagi,” tambahnya.

Meski begitu dirinya juga menyadari ada warga yang kurang suka dengan adanya pembesaran sapi di lingkungannya. Makanya ke depan dirinya juga minta kepada para pemelihara sapi ini tetap mengedepankan koordinasi dengan lingkungan sehingga nantinya tidak ada protes warga lagi. (wandi/win)