Thursday, 23 November 2017

Jokowi: Kejahatan Lintas Batas Dorong Instabilitas Politik Dunia

Selasa, 14 November 2017 — 20:03 WIB
Presiden Jokowi saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 40 Tahun Kerja Sama Kemitraan ASEAN-UNI EROPA,   di Philippine International Convention Center (PICC), Manila, Filipina,  Selasa (14/11). (ist)

Presiden Jokowi saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 40 Tahun Kerja Sama Kemitraan ASEAN-UNI EROPA, di Philippine International Convention Center (PICC), Manila, Filipina, Selasa (14/11). (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Presiden Jokowi mengajak para kepala negara Asia Timur untuk bekerja sama agar keterbukaan ekonomi dapat dijaga dan inklusifitas tetap diperhatikan serta membawa manfaat bagi semua negara.

Itu disampaikan  Jokowi saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-12 Asia Timur yang digelar pada Selasa, 14 November 2017, di Philippine International Convention Center (PICC), Manila, Filipina. “Penerapan semangat ini akan mempersempit jurang pembangunan antar negara,” ucap Jokowi.

Selain itu, menurut Jokowi instabilitas politik juga dinilai akan menghambat pertumbuhan ekonomi dunia. “Konflik dan perang kejahatan lintas batas dapat mendorong instabilitas politik dunia,” kata Jokowi dalam siaran persnya yang disampaikan Biro Pers Kepresidenan.

Menurut dia, dalam konteks inilah peran penting ASEAN dan Asia Timur diperlukan. “Kita harus terus menjaga agar budaya dialog terus menjadi budaya negara anggota KTT Asia Timur, utamanya collective leadership kita dalam penyelesaian secara damai yang diperlukan dunia,” ungkapnya.

Isu terorisme juga tak lepas dari pembicaraan dalam forum tersebut.  Jokowi mengingatkan walaupun Kota Marawi sudah dibebaskan dari kependudukan teroris, namun ancaman terorisme masih belum akan menurun.

“Kerja sama regional dan internasional harus terus ditingkatkan dengan menggunakan pendekatan hardpower dan juga softpower, termasuk dalam mengatasi pendanaan terhadap terorisme,” ucap Presiden Jokowi.

Presiden menegaskan agar counter narasi yang mengedepankan nilai toleransi juga harus diperkuat. (Johara/win)