Thursday, 23 November 2017

Jokowi Minta Diskriminasi Kelapa Sawit Dihentikan

Selasa, 14 November 2017 — 14:09 WIB
Presiden Jokowi saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 40 Tahun Kerja Sama Kemitraan ASEAN-UNI EROPA,   di Philippine International Convention Center (PICC), Manila, Filipina,  Selasa (14/11). (ist)

Presiden Jokowi saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 40 Tahun Kerja Sama Kemitraan ASEAN-UNI EROPA, di Philippine International Convention Center (PICC), Manila, Filipina, Selasa (14/11). (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Presiden Jokowi meminta diskriminasi terhadap kelapa sawit Indonesia di Uni Eropa segera dihentikan. Sebab ini, menyangkut 17 juta orang Indonesia yang hidupnya, baik langsung maupun tidak langsung, terkait dengan kelapa sawit.

Demikian disampaikan Jokowi dihadapan para kepala negara dan pemerintahan yang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 40 Tahun Kerja Sama Kemitraan ASEAN-UNI EROPA, di Philippine International Convention Center (PICC), Manila, Filipina, Selasa (14/11/2017).

Menurut Jokowi, saat ini terdapat 17 juta orang Indonesia yang hidupnya, baik langsung maupun tidak langsung, terkait dengan kelapa sawit, di mana 42 persen lahan perkebunan kelapa sawit dimiliki oleh petani kecil.

Ditambahkan Jokowi, isu kelapa sawit sangat dekat dengan upaya pengentasan kemiskinan, mempersempit gap pembangunan, serta pembangunan ekonomi yang inklusif.

Karena itu , dalam pidatonya Jokowi meminta agar diskriminasi terhadap kelapa sawit di Uni Eropa segera dihentikan. Sejumlah sikap dan kebijakan yang dianggap merugikan kepentingan ekonomi dan merusak citra negara produsen sawit juga harus dihilangkan.

Presiden menilai resolusi parlemen Uni Eropa dan sejumlah negara Eropa lainnya yang menerapkan deforestasi serta berbagai kampanye hitam, tidak saja merugikan kepentingan ekonomi, namun juga merusak citra negara produsen sawit.

Presiden menyampaikan bahwa Indonesia paham pentingnya isu “sustainability”. Oleh karena itu, berbagai kebijakan terkait sustainability telah diambil, termasuk pemberlakuan sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

(johara/sir)