Tuesday, 14 August 2018

Pemuda Muhamadiyah: Kepala Kolese Kanisius Sesalkan Ananda Sukarlan

Rabu, 15 November 2017 — 20:36 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah/Pangti Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Dahnil Simanjuntak di Jakarta,  Rabu sore (15/11), menerima Romo para alumni Kolese Kanisius. (ist)

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah/Pangti Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Dahnil Simanjuntak di Jakarta, Rabu sore (15/11), menerima Romo para alumni Kolese Kanisius. (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Pimpinan Pusat (PP)  Pemuda Muhammadiyah kedatangan tetangga dekat, yakni  para Romo alumni Kolese Kanisius.  Kebetulan Gedung Kolese Kanisius dan Gedung Dakwah Muhammadiyah menempel bersebelahan.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah/Pangti Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Dahnil Simanjuntak di Jakarta,  Rabu sore (15/11).

Menurut Dahnil, Romo Heru, Kepala Kolese Kanisius dan romo lainnya serta para alumni Kolese Kanisius , menyampaikan kecemasan  terkait  isu  ajakan serta provokasi untuk melakukan demo terhadap Kolese Kanisius, yang tersebar di sosial media.

Masih mengutip keterangan Romo Heru,  Dahnil menjelaskan, pada dasarnya  kecewa dan menyayangkan sikap Ananda Sukarlan yang WO (walk – out) ketika Gubernur DKI Anies Baswedan menyampaikan pidatonya.

“Secara resmi Alumni Kolese Kanisius yang menyesalkan tindakan yang dilakukan Ananda tersebut, ditambah yang bersangkutan membuat rilis terkait aksi WO, tersebut. Jadi, tidak ada kaitannya dengan civitas akademika Kolese Kanisius,”  tambah Dahnil.

Terkait dengan isu unjuk rasa tersebut, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah telah berusaha mencari dan menelusuri siapa yang menyebarkan provokasi dan ajakan tersebut.

Sebab itu, kami ingin menyampaikan, bahwa siapa pun yang melakukan provokasi mengajak melakukan demonstrasi terhadap lembaga pendidikan seperti Kolese Kanisius tentu tidak dibenarkan.

Muhammadiyah memiliki ribuan lembaga pendidikan diseluruh Indonesia, tentu tidak berkenan bila diancam dengan demonstrasi, apalagi isu yang dibawa tidak terkait dengan institusi tersebut.

Karenanya,  kata Dahnil,  pihaknya  menghimbau untuk tidak melakukan demonstrasi dan ancaman mobilisasi massa tersebut, karena bisa menyulut stigma intoleran yang massif,  mari rawat nalar yang sehat bukan emosi yang kuat, selama ini kami berusaha keras merawat Toleransi yang otentik dengan apik, bukan toleransi yang penuh keberpura-puraan. (Johara/win)