Monday, 11 December 2017

Listrik Listriiik. Sepuluh Ribu Tiga

Sabtu, 18 November 2017 — 4:53 WIB
listrik

Oleh S. Saiful Rahim

“AKAN lucu sekali kalau di gang-gang tempat tinggal kita ada yang berkeliling sambil berteriak, listrik listriiiik! Seratus ribu tiga,” kata Dul Karung sambil tertawa sendiri.

Sebelumnya, ketika tepat tiba di ambang pintu warung kopi Mas Wargo, dia mengucapkan kata assalamu alaykum dengan mahraj sempurna sama seperti diucapkan oleh santri pesantren yang bukan abal-abal.

Lalu, seperti biasa, tangannya menyambar dan langsung mencaplok singkong goreng yang masih kebul-kebul. Tetapi sebelum tangan kanan sempurna memasukkan potongan singkong ke mulut, orang yang duduk tepat di sebelah kanan menyambar tangan Si Dul. Akibatnya singkong gagal disorongkan ke mulut Dul Karung yang sudah ternganga bagaikan lubang sumur.

“Tunggu dulu. Sabar!” kata orang itu sambil tangannya menahan tangan Dul Karung yang sudah siap sedia mencemplungkan singkong goreng ke mulut.

“Apa maksudmu teriakan listrik listriiiik. Seratus ribu tiga itu?” sambung orang itu bernada tinggi.

“Aku baca di koran, lihat di televisi, dan dengar di radio, PLN sekarang akan mengobral listrik. Cara yang hampir setengah memaksa, perusahaan listrik milik negara itu akan menjual daya listrik kepada orang-orang yang sudah menjadi pelanggannya.

“Mereka telah melanggan listrik kapasitas setrum 1.300 VA, 2.200 VA, 3.500 VA, dan 4.400 VA, akan ditambah daya jadi 5.500 VA. Kalau kita tiba-tiba ingin memasang 10 unit kulkas atau A.C. baru di rumah tak akan ada masalah kekurangan daya seperti dulu. Ngejeglek, kata orang kampung,” jelas Dul Karung.

“Kalau begitu, tidak akan ada dong petugas PLN yang keluar masuk gang sambil teriak, “Listriiik, listriiiik. Seratus ribu tiga, seperti tukang perabot dapur plastik yang keliling pake mobil boks dong,” sela orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Iyalah. Itu tadi kan cuma bisa-bisanya Si Dul saja,” tanggap orang berdasi, duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Kukira nanti benar-benar akan ada petugas atau karyawan PLN yang masuk-keluar kampung untuk menawarkan strum listrik. Kalau sampai ada seperti itu, alangkah malang nasib PLN,” komentar orang yang duduk selang lima di kanan Dul Karung.

“Hlo kok malang?” serobot orang yang duduk di depan Mas Wargo dengan aksen Jawa yang berat.

“Duluuu sekali, ketika aku baru punya rumah, untuk memasang listrik itu susahnya sama dengan mencari kura-kura yang pandai terbang. Datang ke kantor PLN sehari 200 kali bolak-balik pun belum tentu dapat jatah listrik. Lebih gampang dan lebih bisa diharapkan kalau kita datang ke rumah atau ke warung kopi pangkalan calo listrik. Tentu saja dengan harga yang seperti celana panjang di kala musim banjir,” kata orang yang duduk selang lima di kanan Dul Karung lagi.

“Apa hubungan harga pemasangan listrik dengan celana panjang pada musim banjir?” tanya entah siapa dan duduk di mana.

“Kan kalau musim banjir celana panjang bagian kakinya harus dilipat-lipatlah. Begitu pula harga mengurus pemasangan listrik waktu itu,” jawab orang yang duduk selang lima di kanan Dul Karung membuat orang yang mendengar tersenyum. Bahkan terbahak-bahak.

“Yang aku tak habis pikir kenapa sih perusahaan sebesar PLN dan milik negara pula, tidak bisa membuat perencanaan yang benar. Seingatku dulu, entah pejabat tingkat menteri atau di bawahnya, atau entah siapa, pernah mengatakan bahwa megaproyek listrik 35.000 MW adalah pemborosan belaka. Beliau menganjurkan agar rencana itu dibatalkan saja. Tetapi bukan saja usul tersebut tidak didengar, bahkan disalahkan dan dianggap pikiran sesat.
Sekarang pelanggan dipaksa membeli surplus produksi listrik itu. Bahkan pada tahun 2019 kelak surplusnya diprediksi mencapai 40.000 megawatt. Apa surplus itu nanti dijual paksa kepada pelanggan lagi? Tukang tempe saja tahu kelebihan produksi adalah gambar kebodohan produsen,” tanggap seseorang berpakaian kelimis, dan duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Sebenarnya ada cara yang gampang untuk mengatasi surplus strum listrik itu,” kata Dul Karung sambil menyeruput teh manis.

“Bagaimana?” tanya beberapa orang serempak.

“Buru-buru bikin mobil bertenaga listrik sebanyak-banyaknya. Larang pemakaian kompor gas karena sering meleduk, dan gantikan dengan kompor listrik. Kalau perlu balon gas mainan anak-anak itu ganti pula dengan balon listrik,” jawab Dul Karung seenaknya sambil ngeloyor meninggalkan warung. (syahsr@gmail.com )*