Saturday, 17 November 2018

Datangi Sandi, Pedagang Kota Tua Minta Boleh Dagang Sabtu-Minggu

Senin, 20 November 2017 — 9:46 WIB
PKL kawasan Kota Tua saat mengadu ke Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Balaikota.(ikbal)

PKL kawasan Kota Tua saat mengadu ke Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Balaikota.(ikbal)

JAKARTA (Pos Kota) – Pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat meminta Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno agar diizinkan berjualan di kawasan Kota Tua, termasuk di trotoar.

Mereka mengeluh dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang baru mengizinkan membuka lapak di kawasan Kota Tua pada pukul 22:00. Padahal menurut pedagang, pada jam tersebut wisatawan mulai sepi.

“Minta waktu kelonggaran untuk berdagang dari jam 5 sore sampe malam. Di trotoar, pokoknya pinggir-pinggir trotoar itu. Kayak semua aja. Karena kan enggak semua pedagang bisa direlokasi ke Cengkeh, ke Taman Intan itu, karena Taman Intan udah gak maksimal,” ujar Irma Yuningsih, PKL Kota Tua di Balaikota Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan Senin (20/11/2017).

Hal senada juga disampaikan Sugiarto, rekan Irma. Menurutnya tempatnya berjualan saat ini, di Jalan Lada, Jalan Kunir, Jalan Bank, Jalan Asemka, Jalan Jembatan Batu sepi pembeli. Karena itu dirinya minta agar diperbolehkan masuk ke kawasan Kota Tua lebih awal. Selain itu Sugiarto juga meminta saat Sabtu dan Minggu PKL dibebaskan berjualan tanpa ketentuan waktu.

“Jadi pengunjung bubar, kita ini pedagang baru masuk, baru berdagang. Kita ini mau makan apa. Kita kayak dicekek, kayak mau dibunuh pelan-pelan. Ulah siapa, kan gitu. Kalau hari Sabtu-Minggu saya minta sama Pak Gubernur minta tolong dibebasin karena hari libur, pengunjung banyak,” kata Sugiarto.

Saat menerima dan menanggapi keluhan PKL Sandi sempat mempertanyakan ketertiban jika diizinkan berjualan mulai pukul 17:00 dan dibebaskan saat Sabtu dan Minggu. “Tapi berantakan gak? Semrawut. Saya waktu ke sana semrawut banget, dorong-dorong ke mana-mana,” jawab Sandi.

Namun Irma menjamin ketertiban PKL akan tetap terjaga. Menurutnya meski diizinkan berjualan di area Kota Tua, PKL juga harua tetap ditata.¬† “Justru kalau diatur jam segitu gak bakal berantakan dorong-dorong,” ucap Irma beralasan.

Selain itu, PKL tersebut juga meminta agar Pemprov DKI Jakarta dapat menampung mereka di lahan milik PT Jiwasraya di Jalan Lada yang akan dijadikan pusat kuliner. Namun pusat kuliner tersebut tidak mengakomodir PKL. Pedagang berjanji jika mendapatkan kesempatan berjualan di lahan tersebut, tidak akan berjualan di trotoar.

“Kita juga minta relokasi ke Jalan Lada itu ada lahan Jiwasraya. Lahan itu katanya mau dibuat pasar rakyat, pusat kuliner sama konsorsium. Tapi pas kita nanya ke pihak Jiwasraya, itu nanti pelaku usaha yang di situ itu bukan PKL, tapi CV, franchise, kayak PT. Itu kan ya mematikan PKL dong,” sambung Irma yang menyebut mewakili 383 PKL.

Untuk permintaan ini Sandi mengaku akan berkomunikasi terlebih dahulu dengan pemilik lahan. Sandi memerintahkan stafnya, Rustam Effendi untuk mengetahui kemungkinan PKL dapat ditampung. Namun Sandi mensyaratkan agar tidak ada penambahan jumlah PKL saat direlokasi.

“Tolong cari waktu sama konsorsium, sama Jiwasraya, kita pastiin 380, tapi jangan nambah lagi deh. 400 Rata-rata dagangnya kuliner. Nanti diatur pertemuannya. Gak nambah lagi nih, janji nih,” tandas Sandi. (ikbal/win)