Sunday, 23 September 2018

Selalu Merem di Ranjang Lantaran Suaminya “Gino”

Sabtu, 25 November 2017 — 7:19 WIB
tonggos

WAWAN, 45, dan Ismiarti, 40, sudah menikah 15 tahun. Tapi mendadak Wawan menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya. Ternyata masalahnya sepele, Wawan tersinggung karena istri setiap melayani bercinta selalu merem. Tapi kata Ismiarti, “Biar tidak ngedrop saja. Habis suamiku gino (gigi nongol) alias merongos.”

Maunya setiap wanita, punya suami yang ganteng dan pintar cari uang. Tapi itu tak semuanya terkabulkan. Ada lelaki ganteng, bisanya jadi penganut “aliran kebatinan”. Ada juga yang tampang jelek, tapi pintar mencari uang. Maka banyak wanita yang pilih model terakhir itu. “Soal tongkrongan bodo amat, yang penting tangkringannya.” Begitu katanya.

Ismiarti yang tinggal di Genteng, Surabaya, termasuk wanita yang berpikiran seperti itu. Waktu gadis dulu, banyak sebetulnya cowok yang menaksir dirinya. Tapi dari 5 kontestan, setelah diferifikasi di luar KPU, hanya satu yang memenuhi syarat. Empat kontestan itu memang ganteng-ganteng, tapi masih nganggur alias masa depan suram.

Satu kontestan yang memenuhi syarat tinggal Wawan. Dia tergolong perjaka tua, jelek pula. Tapi punya nilai tambah, sudah jadi PNS. Akhirnya dia mencari pembenaran dari dalam hati sendiri, “Suami jelek nggak apa-apa, yang penting tanggungjawab dan punya pekerjaan mapan.” Dan itulah Wawan.

Seperti apa sih jeleknya tampang Wawan ini? Soal wajah sebetulnya masih standar, hanya saja giginya yang nongol terlalu ke depan, sehingga diistilahkan sebagai: gino alias gigi nongol. Selain itu, kepala juga botak sementara kumis tebal seperti Gatutkaca. Teori medisnya mungkin, sifat air kan selalu mencari tempat yang lebih rendah. Akibatnya cairan bermuatan kalori dan karbohidrat itu tak sampai ke atas, hanya mengendap di bagian bawah sehingga kumisnya jadi tebal.

Karena soal “gino” saja yang membuat Ismiarti kurang sreg pada suaminya. Tapi namanya sudah jadi suami, Ismiarti harus memenuhi kewajiban melayani di ranjang setiap suami minta. Cuma untuk menjaga gairah tidak ngedrop, sengaja Ismiarti selalu sambil merem. Suami minta melek, tapi hanya sebentar, lalu merem lagi.

Karena sudah menjadi tradisi istri, suami lama-lama tak bisa apa-apa. Tapi Wawan juga tak pernah minta penjelasan, kenapa harus merem di atas ranjang? Dia hanya berpikir positip, mungkin istri takut kelilipan, karena atap rumahnya belum diberi plafon. Atau dengan merem, Ismiarti jadi lebih menghayati dan fokus pada tugasnya sebagai ibu rumahtangga yang sakinah.

Tanpa terasa sudah 15 tahun mereka membina rumahtangga dan tiga anak telah lahir. Tapi mendadak tanpa sebab Wawan menggugat cerai istrinya ke Pengadilan Agama Surabaya. Apa alasannya? Ismiarti pernah selingkuh, tak mau menjalani tugas hakiki sebagai istri? Semuanya bukan! “Saya tersinggung, setiap melayaniku di ranjang istriku selalu merem.” Kata Wawan kepada majelis hakim.

Ismiarti sendiri terkaget-kaget, tak ada hujan tak ada angin, dia dipanggil kantor Pengadilan Agama Surabaya, perihal gugatan cerai suaminya. Ketika majelis hakim menanyakan, kenapa setiap melayani suami di ranjang sambil merem? “Habis aku jadi ngeri setiap melihat gigi suamiku yang merongos. Biar tetap jossss, aku merem saja.” Kata Ismiarti jujur.

Kan sudah tersamar oleh kumis Gatutkaca-nya? (JPNN/Gunarso TS)