Wednesday, 13 December 2017

Merawat Kerukunan

Senin, 27 November 2017 — 5:42 WIB

KEREKATAN nasional secara samar-samar belakangan ini sepertinya terusik. Perbedaan yang dari dulu sudah disatukan menjadikan sebuah kekuatan bangsa dan terawat rapih, kini seolah sedang diuji. Satu kelompok menggoyang keberadaan kelompok lain yang berbeda, begitupula sebaliknya.

Berbagai kegiatan dan manuver bahwa sikap pihaknya yang paling benar ditunjukkan satu sama lain. Mereka ingin menunjukkan kekuatannya ke publik bahwa masyarakat banyak yang sepaham dengan sikap pihaknya.

Bila saling berhadapan antara kelompok membuat kehidupan masyarakat rawan gesekan. Tak jarang masyarakat, terutama di akar rumput yang pemahamannya terhadap sejarah bangsa masih rendah kadang gampang terprovokasi.

Indonesia lahir dari keberagaman. Perbedaan baik etnis, budaya, bahasa maupun agama adalah takdir yang disatukan Pemuda-Pemudi Indonesia melalui Sumpah Pemuda menjadi kekuatan bangsa Indonesia.

Peristiwa sejarah Sumpah Pemuda yang terjadi pada 28 Oktober 1928 lalu, merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Ikrar peleburan kekuatan kemajemukan menjadi satu Indonesia hingga kini diperingati setiap 28 Oktober.

Merujuk Indonesia tumbuh di atas beragam etnis, bahasa, budaya, adat istiadat dan lainnya, para founding fathers (pendiri bangsa) lalu merumuskan konsep pluralisme yang dibingkai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Tak mau keberagaman Indonesia terusik lebih jauh, elemen masyarakat maupun stakeholders (pemangku kepentingan) tergugah untuk menguatkan dan menanamkan lebih dalam tentang keberagaman kepada masyarakat. Misalnya Pemrov DKI Jakarta sempat memasang ribuan spanduk bertuliskan, “Kita Semua Bersaudara”. Tak kalah dengan para stakeholder, masyarakat berulang kali menggelar aneka kegiatan yang betujuan mengeratkan anak bangsa, seperti Kirab Budaya Nusantara dan lainnya.

Kemarin, Minggu, 25 November 2017, memanfaatkan peringatan Hari Pahlawan, Kirab Kebangsaan yang bertujuan menguatkan nasionalisme juga disuguhkan di kawasan Monas dan Jalan Jenderal Sudirman. Berbagai budaya nusantara ditampilkan dalam kirab tersebut.
Keberagaman itu nyata dan tidak bisa ditolak, tapi perlu dirawat. Konsep hidup berdampingan secara damai harus dikedepankan. Mewujudkan hal ini dibutuhkan peran aktif bukan saja dari para stakeholder, tetapi juga tokoh lintas agama, tokoh masyarakat dan semua pihak untuk memberikan pehamanan seputar kerukunan.

Gelorakan terus kerukunan bermasyarakat dan pentingnya hidup berdampingan secara masif. Dengan demikian, persatuan dan kesatuan bangsa semakin kokoh. @*