Wednesday, 13 December 2017

STRATEGI ADU DOMBA

Senin, 27 November 2017 — 5:46 WIB

Oleh H Harmoko
BANYAK orang tidak percaya bahwa penjajahan sedang terjadi di Indonesia. Maklum, mereka menganggap, yang disebut penjajahan itu melibatkan militer.

Penjajahan yang melibatkan militer itu penjajahan klasik. Ini sudah bukan zamannya, sudah mulai ditinggalkan. Peradaban telah bergeser. Kini memasuki era penjajahan gaya baru.

Penjajahan gaya baru tidak perlu letusan peluru. Musuh menyerang secara senyap. Negara kolonial mengunakan cara politik dan ekonomi. Militer duduk di belakang dengan sekali-sekali seolah membuat ancaman untuk menakut-nakuti.

Meski begitu, mau menggunakan pendekatan jenis apa pun, perant selalu memakai jurus devide et impera, strategi adu domba. Strategi ini dijalankan secara masif dan sistematis.

Adu domba dikenal sangat efektif untuk melemahkan bahkan memorak-porandakan persatuan serta kesatuan. Di mata kaum penjajah, persatuan dan kesatuan merupakan ancaman pokok yang bisa menggagalkan serangan.

Bagaimana adu domba itu dijalankan? Metodenya selalu sama, baik pada perang klasik mapun perang gaya baru, yakni memasang boneka lokal perpanjangan kolonialis. Mereka ditempaykan di tiap-tiap kelompok besar dan golongan yang dinilai sangat mengakar di masyarakat.

Melalui boneka-boneka itulah antarkelompok dibentur-benturkan, dibikin gaduh. Adu domba itu dibuat skenario seolah-olah alami, padahal itu hasil rekayasa.

Di berbagai negara, termasuk di Infonesia, mereka yang dijadikan boneka tidak hanya dari golongan pemuda yang dikenal sebagai pemberontak. Tak sedikit justru melibatkan elite politik, kaum cendekia, dan tokoh-tokoh masyarakat.

Para boneka ada yang secara sadar memang sengaja “melacurkan” diri demi uang dan kedudukan, tetapi ada juga karena tidak menyadarinya. Tidak sadar, ini karena ketidakpahamannya tentang kondisi yang sedang terjadi.

Itulah yang kini sedang berlangsung di Indonesia. Entah sampai kapan. ( * )