Wednesday, 13 December 2017

Malu Bercucu Tanpa Mantu Bayi Merah Dibuang ke Laut

Selasa, 28 November 2017 — 6:20 WIB
masuk

PADA era gombalisasi ini, punya cucu tak punya menantu banyak terjadi. Ny. Karminah, 43, dari Bintan (Riau) rupanya malu anaknya bersalin tanpa suami. Tanpa pikir panjang, orok yang baru lahir itu langsung dibuang ke laut. Setelah bayi itu mati, baru merasa berdosa. Tapi semua sudah terlambat, Mak Bunga ditangkap.

Punya anak gadis cantik, menjadi dambaan setiap orang. Padahal sesungguhnya, gadis cantik sering pula jadi malapetaka bagi keluarga. Ini bisa terjadi bila sianak cantik itu dilepas begitu saja, bebas tanpa pengawasan. Tak ada angin tak ada hujan, tahu-tahu anak dambaan keluarga itu malah membawa aib, gara-gara hamil di luar nikah. Coba, mau ditaruh mana muka ini?

Ny. Karminah warga Bintan Kepulauan Riau, memiliki anak perempuan yang sudah ABG. Dalam usia belum genap 17 tahun, penampilan Dinah sungguh membangkitkan selera laki-laki. Lebih-lebih bagi mereka yang menganggap seks itu adalah panglima, sehingga ping lima dalam seminggu menggauli bini, itu sudah menjadi keharusan.

Ny. Karminah sudah lama menjanda, sehingga bagaimana mencari nafkah bagi keluarga itu menjadi tanggungjawabnya. Dulu saat ada suami, dia biasa menjadi ratu rumahtangga, di rumah hanya mamah karo mlumah. Tapi sekarang, jika tidak obah ya nggak mamah. Untuk mengasapi dapur, Karminah jualan di pasar.

Karena sibuk dengan usahanya, Karminah jadi kurang kontrol pada anak semata wayangnya. Dia baru merasa kecolongan, ketika putrinya beberapa hari lalu mengeluh sakit perut hebat. Ketika diperiksa, ternyata Dewi mau melahirkan. Lho, kok mau bersalin? Memangnya hamil? Lalu siapa suaminya? Seingat saya, saya belum pernah mantu dan punya mantu.” Ujar batin Karminah.

Karminah membayangkan, bagaimana jika bayi itu ditimang-timang putrinya, lalu ditanya siapa bapaknya, tidak bisa jawab. Pasti akan menjadi pergunjingan orang. Itu anak Mak Bunga –begitu dia dipanggil– masak punya anak tak punya suami. Lalu siapa pula yang menyetrom sembarangan? Mentang-mentang listrik mau ditambah dayanya jadi 5.500 watt. Sungguh Karminah takut bayangan hitam di depan mata.

Maka dengan mengesampingkan segara rasa iba dan etika, begitu bayi itu lahir, tanpa menunggu tangisan berkepanjangan, langsung saja diambil dan dilempar ke laut yang terletak di belakang rumah. “Bayiku laki atau perempuan Mak?” kata Dewi pada sang emak. Tapi Ny. Karminah hanya menjawab singkat, “Laki perempuan sama saja, yang penting tak bikin aib keluarga.”

Ny. Karmini selalu ingat akan kesadirannya. Bayi merah itu sempat menangis sejenak, tapi langsung diambil dan dibuang ke laut. Kini lega untuk sementara, padahal perasaan merasa bersalah sudah muncul beberapa menit setelahnya. Keringatpun menetes sebesar kajangi ijo, tanpa bakpia maupun bakpao.

Nenek kejam ala Mak Lampir itu menyuruh anak lelakinya, untuk mencari bayi yang baru dibuangnya. Ditemukan memang, tapi sudah tewas. Kepada tetangga beralasan, bayi itu lahir langsung mbrojoli jatuh ke laut. Mana polisi bisa dibohongi. Ny. Karminah pun ditangkap.

Kalau Ny. Karminah sendiri yang dilempar ke laut, gimana ya? (JPNN/Gunarso TS)