Monday, 11 December 2017

SANG ANTABOGA

Kamis, 30 November 2017 — 7:01 WIB

Oleh H. Harmoko

SEGUMPAL awan dari letusan Gunung Agung, Bali, membentuk kepala Dewa Antaboga. Foto tentang itu menyebar di media sosial. Berbagai komentar bermunculan, baik yang berkaitan dengan mitologi Bali maupun dengan cerita wayang dari kitab Mahabarata.

Pada mitologi Bali disebutkan bahwa Antaboga atau Anantaboga merupakan seekor ular raksasa yang berkaitan dengan awal penciptaan dunia, dikenal sebagai dewa penguasa dasar bumi.

Dikisahkan, pada awalnya dunia ini hanya dihuni Antaboga. Saat bermeditasi, Antaboga menciptakan makhluk yang disebut bedawang, yakni seekor penyu raksasa. Penyu ini dipercaya sebagai perwujudan dari Antaboga, bersama dua naga menggendong isi dunia dan mendukung dunia manusia. Jika ia bergerak, maka terjadilah gempa dan letusan gunung.

Dalam kisah wayang purwa Jawa, Antaboga merupakan raja ular yang hidup di dasar bumi sebagai pengasuh Wisanggeni. Dewa ini berbentuk naga bermahkota.

Suatu saat ketika sedang bertapa, Antaboga didatangi Batara Brahma.

“Wahai cucuku, Anantaboga, kegemaran kamu bertapa sungguh membuat saya senang. Apa yang ingin kamu capai dalam melakukan tapa brata ini?”

“Pukulun, ketahuilah, hamba melakukan tapa brata ini sebagai ikhtiar untuk mencapai ketenteraman hidup. Selain itu, hamba juga ingin selalu berbuat baik selama hidup,” jawabnya.

“Sungguh mulia, cucuku. Saya sangat gembira bahwa kamu ingin menjadi penerang kehidupan. Gunakanlah itu demi kesejahteraan seluruh makhluk. Hai, cucuku, telah kamu ketahui sendiri, jagat ini belum tegak berdiri dengan kokoh; selalu saja terjadi gonjang-ganjing. Jika kamu memang ingin menjaga kesejahteraan segala sesuatu yang ada di jagat raya ini, maka sanggalah jagat ini agar selalu kokoh.”

“Duh, junjungan segala makhluk, hamba bersedia melaksanakan apa yang telah paduka titahkan. Hamba harap paduka berkenan menumpangkan jagat ini di atas kepala hamba.”

“Hai, cucuku, masuklah kamu ke dalam dasar bumi, jagat ini akan terbelah sebagai jalanmu. Ketahuilah olehmu, karena kamu sanggup untuk menjadi penyangga bumi, maka kamu akan mendapatkan anugerah tak terhingga.”

Setelah itu, Antaboga pun ambles ke dalam tanah, menempuh jalan melalui tanah yang terbelah menuju dasar bumi, langsung mulai menyangga bumi. Ketika Gunung Agung meletus dan memunculkan awan berbentuk kepala Antaboga, naluri tradisi masyarakat Bali spontan pun bertanya: ini pertanda apa?

Secara onomastika (ilmu etnolinguistik tentang asal-usul, bentuk, dan makna nama diri), Antaboga berasal dari ‘a’ yang berarti tidak, ‘ananta’ berarti tidak pernah habis, dan ‘boga’ berarti makanan. Berdasarkan ini, kemunculan awan berbentuk kepala Dewa Antaboga di langit Bali mudah-mudahan sebagai pertanda bahwa kita tak akan pernah kehabisan makanan, senantiasa hidup dalam kesejahteraan.

Atau, itu sebuah pertanda bahwa sang Antaboga sedang marah karena ulah manusia di bumi? Entahlah. ( * )