Sunday, 17 December 2017

Kisah Sang Buaya

Sabtu, 2 Desember 2017 — 7:29 WIB
buayadarat

BANYAK cerita soal buaya. Buaya yang biasa biasa saja, sampai buaya sakti. Joko Tingkir adalah satu di antara jagoan yang bisa menaklukan buaya sakti tersebut.

Bukan ingin membahas buaya yang sakti, yang jelas bahwa buaya itu buas! Tapi, sebuas apapun, manusia nasih bisa menaklukan. Bukan Joko Tinggkir saja, banyak sekarang ini pawang yang mampu menaklukkan sang buaya.

Buaya, dipelihara untuk dilestarikan di dalam satu wadah semacam kebun binatang. Buaya juga dipelihara dan dikembangbiakan sebagai lahan bisnis. Diambil daging dan kulitnya.

Jangan ditanya lagi, jika harga barang-barang, tas, sepatu, sabuk, dompet yang terbuatabdari kulit buaya sangatlah mahal. Orang yang punya barang dari kulit buaya boleh dibilang kalangan tertentu.

Buaya juga diabadikan sebagai nama tempat. Di Jakarta misalnya, ada kampung Rawa Buaya. Buaya bagi orang Betawi sebagai lambang dalam tradisi ‘bawaan’ atau seserahan pernikahan. Dalam satu bawaan seserahan biasanya pihak mempelai pria membawa sepasang roti buaya, jantan dan betina. Malah buat lebih seru di punggung sang betina menggendong anak-anaknya.

Pilosofi yang menarik adalah, konon katanya, dalam kehidupan perhewanan, buaya dalah pasangan yang sangat setia sepanjang hidupnya. Mereka, tidak cerai selamanya, kecuali ajal memisahkan!

Dalam sehari-hari buaya juga dikenal sebagai cap lelaki nakal, yang disebut ’buaya darat’. Nggak perlu dibahas, deh!

E, tapi jangan salah, tuh kota besar Surabaya lambang kotanya dengan ikan sura dan buaya.
Dan kesebelasannya saat ini masih suka cita menikmati kemenangannya itu berjuluk; ‘bajul ijo’! -massoes