Sunday, 17 December 2017

Rojali 10 Tahun Buka Lapak

Akibat Gadget, Lapak Koran Makin Terpinggirkan

Senin, 4 Desember 2017 — 14:50 WIB
Rojali sedang merapihkan isi lapaknya di Pinggir Pertigaan Jalan Anggrek dan Jalan Raya Cinere, Senin siang (4/12/2017).

Rojali sedang merapihkan isi lapaknya di Pinggir Pertigaan Jalan Anggrek dan Jalan Raya Cinere, Senin siang (4/12/2017).

JAKARTA (Pos Kota) – Tidak bisa dipungkiri memang, dewasa ini ditengah kemajuan teknologi, lapak koran eceran makin terpinggirkan. Bahkan banyak yang memilih berhenti dan beralih profesi daripada terus menjajakan koran yang makin menurun pamornya.

Di tengah keadaan serba gadget kini, Rojali masih setia menjajakan koran dari fajar hingga sore menjelang. Dia dan lapaknya dapat ditemui di pertigaan Jalan Anggrek dan Jalan Raya Cinere, Depok, Jawa Barat.

Rojali mengakui kini semakin sulit menjajakan koran, penghasilannya pun turun drastis dibanding saat media cetak masih jaya. “Jauh dah sama yang dulu kalo masalah jualan mah paling sehari 200ribu, jaman dulu koran masih jaya hp belum canggih mah 200ribu setengah hari, sehari bisa 400-500ribu,” tegasnya, saat ditemui di lapaknya, Senin (4/12/2017) siang.

“Saya sih tumpuannya sama orang yang langganan aja, kalo gak ada mereka mah udah susah apalagi kalo koran yang untungnya tuh kecil. Ya ini majalah tabloid juga menolong sih, untungnya lumayan gede,” cerita Rojali.

Menurut Rojali isi lapaknya dia beli dari agen yang letaknya di Jalan Haji Ipin, dia mengakui ada dua model pembelian di agen, secara retur dan cash. Apabila sistem retur, dia hanya membayar yang laku dan mengembalikan yang tidak laku ke agen. Sedangkan sistem cash artinya dia membeli tanpa pengembalian apabila tidak laku.

“Sekarang mah saya kalau gak yang returan ya ngambilnya dikit, paling 6-7 biji supaya kalo orang nanyain mah ada aja. Kalau yang returan tuh paling enak soalnya bayar yang laku, yang gak laku balikin, ini majalah, tabloid sama berapa koran gitu mainnya returan,” jelas Rojali.

Selain menjajakan koran di lapak tuanya, lelaki 53 tahun ini juga menjadi tukang ojek pangkalan sebagai sarana tambahan penghasilan. “Ini juga saya sambi ngojek, ke komplek sana, kalo lagi narik ya istri saya yang jagain, ganti-gantian,” tuturnya.

Gantikan Anaknya

Rojali melapak di tempatnya kini, sejak 5 tahun terakhir meneruskan anaknya yang sebelumnya melapak. Menurutnya anaknya menyerah dan tidak kuat menjajakan koran yang kian hari kian lesu pendapatannya.

“Awalnya anak saya yang jualan disini cuma dia gak kuat, sekarang jadi ojek online dia. Sebelumnya saya juga yang jualan, akhirnya saya lagi sekarang ada kali 10 tahunan lebih mah buka lapak koran,” tutur Rojali.

Menurut Rojali dirinya hanya bisa larut dalam perubahan zaman, termasuk dampak yang ditimbulkan kepada profesinya. Dia mengakui hanya bisa melakukan pekerjaan sebagai pelapak koran demi menyambung hidup.

“Ya buat makan saya sama istri, kadang anak ya bantu cuman gak banyak dia juga kan punya keluarga. Saya mah selama koran masih dicetak, gak libur cetak ya bakal terus jualan saya,” tegas Rojali.

Rojali berharap dagangannya tetap membawa keuntungan yang cukup untuk hidupnya. “Kalo boleh mah koran bisa bangkit kaya dulu lagi, laku lagi dijual,” tambahnya. (mo1/tri)