Wednesday, 13 December 2017

Polisi Mencari Siapa Bapak Bayi di Perut Pembantu Ini

Senin, 4 Desember 2017 — 5:59 WIB
siapa-tanggung

DALAM urusan seks, tiga kuli bangunan ini benar-benar mengacu motto RM Padang. Gara-gara pelayanan pembantu bernama Jumirah, 18, sangat mengasyikkan, Samidi, 18, memberi tahu ke dua temannya satu profesi. Akhirnya Jumirah pun dibuat keroyokan mereka bertiga, sampai kemudian hamil. Nah, siapa yang tanggungjawab?

Jika kita memasuki RM Padang, sering menemukan motto: Jika tidak enak, beritahu kami, jika enak beritahu teman-teman. Kata-kata itu memang menjadi alat promosi sangat manjur. Lewat getok tular dari mulut ke mulut, lama-lama RM Padang itu menjadi terkenal dan banyak pelanggan. Tapi awas, motto itu jangan dibalik, bisa bangkrut karenanya.

Samidi yang menjadi kuli bangunan, belum lama ini bekerja di rumah warga Wiyung, Surabaya. Dia bagian ngaduk pasir. Di kala mengaduk-aduk pasir dengan semen itu, dia suka bercanda dengan pembantu pemilik rumah yang terletak di depan rumah yang sedang direnovasi. Jumirah yang sedang menjemur di lantai atas, suka digodain Samidi ketika memasang genting.

Ketika rumah majikan Jumirah sepi, dia diizinkan masuk rumah lewat pintu belakang. Keduanya pun ngobrol di kala jam istirahat antara pukul 12.00 hingga 13.00. Lama-lama Samidi tak sekedar ngobrol, justru merayu Jumirah untuk diajak hubungan intim bak suami istri. Ternyata sigadis tak menolak. Meski masih bau semen Gresik atau Cibinong, Jumirah tak sungkan juga melayani kekasih barunya.

Ternyata pelayanan Jumirah sangat memuaskan, ibarat ban radial, daya cengkeramnya luar biasa. Nah, mengacu pada motto RM Padang itu tadi, dia lalu cerita pada Basuki, 19, sesama tukang batu. Basuki pun kepengin mencoba, dengan ancaman: jika tak diberi jatah akan mengadu ke majikan Jumirah. Akhirnya Jumirah pun melayani Basuki pula.

Benar kata Samidi, pelayanan Jumirah memang nendang banget. Basuki pun lalu bercerita pada Ngatijo, 29, juga sesama tukang batu, bagian pasang keramik. Melihat penampilan Jumirah yang tergolong KW-1 dan nat-natnya bagus, dia kepengin pula. Dengan dijembatani Samidi, Ngatijo ikutan pula nimbrung meski statusnya hanya sekedar generasi penerus.

Sejak itu Jumirah secara periodik melayani trio Samidi-Basuki-Ngatijo. Tiap mereka gajian di hari Sabtu, Jumirah dapat tip sampai Rp 100.000,- Bahkan sekali waktu mereka pesta seks secara “three in one”. Artinya, Jumirah harus melayani nafsu bejad tiha anak muda berbau semen itu.

Tahu-tahu Jumirah hamil. Yang jadi korban tuduhan pertama tentu saja majikan lelakinya. Untung pembantu ini dengan cepat mengklarifikasi bahwa pelakunya bukan siapa-siapa melainkan trio Basuki-Ngatijo-Samidi, tukang batu di belakang rumah. Ketiganya pun dilaporkan ke polisi, dan tidak membantah. Masalahnya, siapa yang barus bertanggungjawab sebagai ayah si bayi itu?

Penyelesaiannya paling-paling lewat test DNA. Tapi siapa yang membiayai? Yang pasti ketiganya kini ditahan di Polsek Wiyung. Ngatijo ngaku pernah kencan 5 kali, Samidi 4 kali, dan Basuki baru 4 kali sudah jadi urusan polisi. “Habisnya Jumirah suka mancing-mancing,” kata Samidi selaku pelaku perdana.

Yaaak, mancing kok di kamar. Jorannya pakai apa, hayo? (JPNN/Gunarso TS)