Sunday, 17 December 2017

Reuni, Cerita Hitam Putih

Senin, 4 Desember 2017 — 6:21 WIB
reuni-akbar

“HALO apa kabar, berapa anaknya , berapa cucunya? Satu, dua tiga, empat lima? Sudah lama nggak ketemu ya, berapa tahun kira-kira, sepuluh, lima belas, duapuluh tahun kah? He, ngomong-ngomong istri kamu kawan sekelas di sekolah dulu. Atau yang lain? Hahahahaa…”

Itu barusan celotehan sang kawan dalam pertemuan yang disebut reuni. Sudah lama nggak bertemu. Mereka berpiah karena menempuh kehiduan masing-masing. Ada yang di lain kota, lain pulau ada juga yang melanglang buana, ke luar negeri.

Reuni bisa jadi sengaja digagas oleh mereka, misalnya reuni SMP, SMA atau semasa kuliah. Dan ada juga reuni yang tidak resmi karena pertemuan dalam arisan, resepsi pernikah dan lain-lain.

Percaya nggak ada yang dulu tetanga dekat, mereka nggak saling kenal, karena perpisahan yang cukup lama. Yang satu di Jawa dan lainnya di Sumatera. Mereka bertemu dalam satu resepsi pernikahan kerabat satu daerahnya yang dulu sama-asama tinggal di Jawa Tengah.”
Oh, jadi si Anu ya, yang dulu belekan? Hahaha…!” ujar sang sahabat, yang tidak bertemu selama lebih empat-puluh tahun. Bayangkan. Pantastis, ya?

Lalu mereka pun berceloteh sepanjang pertemuan. Cerita soal kehidupan masing-masing. Cerita hitam putih kehidupan. Tentu saja isinya warna warni. Tapi, gelak tawa sepanjang pertemuan itu tanda mereka sangatlah menikmati.

Tapi, bisa jadi ada pertemuan dalam ‘reuni’ yang tidak menggembirakan. Siapa tahu ada sesama kawan saudara bertemu dalam satu sel? Adakah yang begtu?

“Halo apa kabar, berapa ratus miliar yang Ente korup?”

“Hemmm, sekian triliun!”

“ Hah?! “

“Nggak usah lebay, deh!” –massoes