Monday, 11 December 2017

SINGA DAN PERIGI

Senin, 4 Desember 2017 — 5:49 WIB

Oleh H. Harmoko

INI kisah seekor singa yang menerjang bayangannya sendiri di dalam perigi alias sumur. Kisah yang ditulis oleh Jalaluddin Rumi ini tepat sekali untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita: saling tuding dan merasa dirinya paling benar.

Alkisah, seekor singa bergaul dengan seekor kelinci. Mereka berlari bersama ke perigi dan melihat ke dalamnya.

Sang singa melihat bayangannya sendiri di permukaan air. Tampaklah muka seekor singa dan seekor kelinci yang gemuk di sampingnya. Ia merasa sedang melihat musuhnya dan segera meloncat ke dalam perigi.

Si singa jatuh ke dalam lubang perigi. Keangkuhannya menerkam kepalanya sendiri. O, betapa dungunya. Musuh yang ia lihat sejatinya adalah dirinya sendiri yang terpantul dari bayangannya.

Semua yang tampak di permukaan air dianggap lawan dirinya: kemunafikan, ketidakadilan, dan keangkuhan.

“Engkau tak mampu melihat jelas keburukan dalam dirimu. Kalau tidak begitu, engkau akan membenci dirimu sendiri dengan seluruh jiwamu,” tulis Rumi dalam prosa liriknya.

“Seperti singa yang menerkam bayangannya sendiri dalam air, engkau hanya menganiaya dirimu sendiri, O orang dungu,” tulis Rumi pula.

Dilanjutkan, “Jika engkau telah mencapai dasar perigi sifat-sifatmu sendiri, maka engkau bakal mengetahui kejahatan pun ada di dalam dirimu.”

Mencapai dasar perigi sifat-sifatmu, dalam bahasa lain bisa kita katakan sebagai upaya melakukan introspeksi. Bagaimana kita melihat diri kita melalui kacamata batin? Inilah yang susah.

Yang terjadi umumnya seperti singa pada kisah di atas, belum sampai pada dasar perigi, belum sampai pada kedalaman batin untuk berintrospeksi. Rata-rata baru melihat bayangan lewat permukaan air, bak melihat cermin dengan bayangan yang membias.

Dalam situasi seperti itu, kita pun mengalami kesulitan untuk melihat ke dalam diri kita secara jelas. Kelemahan-kelemahan orang lain terlihat lebih jelas, sedangkan kelemahan-kelemahan diri sendiri tidak terlihat.

Oleh karena itu, dalam menangani berbagai persoalan, kita lebih mudah menimpakan kesalahan kepada pihak lain, cenderung menampik kemungkinan kita ikut berkontribusi melakukan kesalahan.

Begitulah, kita selalu merasa bahwa kitalah yang benar dan orang lain salah. Lebih dari itu, kita juga abai mempertimbangkan aspek lain, yakni baik atau buruk dalam bingkai keindonesiaan.

Akibatnya, negeri ini tak henti dari kegaduhan, menempatkan orang lain sebagai pihak yang salah, pihak yang buruk. Kapan kita bisa menyelami dasar perigi sifat-sifat diri kita sendiri? ( * )