Thursday, 20 September 2018

Belasan Lapak PKL di Pinggir Jalan di Kalimulya Dibongkar Satpol PP

Selasa, 5 Desember 2017 — 16:19 WIB
Sejumlah petugas Satpol PP Kota Depok saat menertibkan lapak pedagang Kaki-5 di Kalimulya, Cilodong. (anton)

Sejumlah petugas Satpol PP Kota Depok saat menertibkan lapak pedagang Kaki-5 di Kalimulya, Cilodong. (anton)

DEPOK (Pos Kota) – Belasan lapak pedagang kaki lima (PKL) yang membuka usaha di pinggir jalan dan atas trotoar di kawasan sejumlah ruas jalan di Kalimulya, Cilodong, ditertibkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Depok. Ini untuk mengembalikan fungsi saluran air dan trotoar yang ada.

“Kami terpaksa membongkar paksa lapak pedagang tersebut karena sudah tiga kali diperingatkan agar membongkar sendiri tempat usahanya,” kata Kepala Satpol PP Depok Dudi Mir’az, Selasa (5/12).

Untuk jumlah pedagang yang ditertibkan sekitar belasan lapak saja guna mengembalikan fungsi pinggir jalan yaitu saluran air dan trotoar serta mengurangi kesan kumuh maupun semrawut.

Ada sebagian yang telah membongkar sendiri tempat usahanya dan yang dilakukan anggotanya terhadap lapak pedagang yang masih membandel serta tidak mengindahkan surat teguran atau peringatan yang diberikan beberapa waktu lalu sehingga anggota membongkar tempat itu untuk mengembalikan fungsi trotoar dan saluran air yang ada.

“Kami telah berikan surat peringatan ke pedagang untuk membongkar sendiri tempat usaha dan pindah dari lokasi yang ada,” tuturnya kebanyakan pedagang itu berada di atas trotoar maupun atas saluran air yang jelas mengganggu ketertiban lingkungan.

Sejumlah pedagang mengakui bahwa mereka memang telah diberikan surat peringatan tapi karena belum mendapatkan lahan penganti untuk membuka usaha terpaksa bertahan membuka usaha di pinggir jalan ini. “Kami paham dan ingin pindah tapi belum mendapatkan tempat penganti usaha,” ucap Yanto, pedagang rokok yang ikut membantu membongkar warungnya.

Sedangkan, Ny. Suhartini, warga Kalimulya, menambahkan kegiatan penertiban warung atau lapak pedagang Kaki-5 tentunya sangat didukung jika melihat kondisi bangunan semi permanen yang berdiri di pinggir jalan kondisinya menambah kesan kumuh dan semrawut.

“Harus ditertibkan jika dibiarkan berlarut-larut malah semakin bertambah banyak dan khawatir malah dijadikan tempat tinggal maupun kegiatan negatif lainnya,” ujarnya karena tempat jualan tersebut berdiri seperti warung remang-remang. (anton/win)