Sunday, 17 December 2017

Dianggap Berisiko Pada Kesehatan

Pemerintah Filipina Hentikan Program Vaksinasi Demam Berdarah

Selasa, 5 Desember 2017 — 12:32 WIB
Nyamuk penyebar demam berdarah.(ilustrasi)

Nyamuk penyebar demam berdarah.(ilustrasi)

FILIPINA – Dianggap berisiko pada kesehatan, Pemerintah Filipina hentikan program vaksinasi demam berdarah.

Keputusan ini setelah pemerintah melakukan penyelidikan terhadap program imunisasi Demam Berdarah Dengue yang melibatkan 730.000 anak, setelah sebuah perusahaan farmasi mengumumkan pemberian vaksin tersebut bisa menimbulkan risiko kesehatan.

Pekan lalu perusahaan farmasi Prancis Sanofi, mengungkapkan vaksin yang diproduksi pihaknya dapat memperburuk kondisi kesehatan orang-orang yang belum pernah terjangkit demam berdarah.

Akibatnya, program imunisasi ini dihentikan sementara pada hari Jumat, (1/12/2017) lalu.

Penyakit demam berdarah ini telah menjangkiti lebih dari 400 juta orang dalam setahun di seluruh dunia.

Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk ini adalah penyebab utama penyakit serius dan kematian di kalangan anak-anak di beberapa negara Asia, trermasuk Indonesia, dan Amerika Latin, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Perusahaan Sanofi mengatakan dalam sebuah konferensi pers pada hari Senin bahwa, tidak ada laporan kematian terkait pemberian vaksin demam berdarah di Filipina.

“Sejauh yang kami ketahui, tidak ada kematian yang dilaporkan terkait dengan vaksinasi demam berdarah,” kata direktur medis perusahaan Ruby Dizon kepada wartawan pada hari Senin (4/12/2017) seperti dilansir BBC.

“Tentu saja, kami meyakinkan akan terus melanjutkan pengawasan, kami bekerja sama dengan Departemen Kesehatan (DOH), untuk memastikan program imunisasi ini terpantau.”

Juru Bicara Kepresidenan Filipina Harry Roque pada hari Senin mengatakan bahwa “orang-orang diminta untuk tidak panik terkait vaksin demam berdarah” karena pemerintah sedang menyelidiki masalah ini.

Vaksin Dengvaxia keluaran perusahaan farmasi Sanofi adalah vaksin dengue pertama yang mendapat izin untuk diberikan kepada masyarakat.

Namun perusahaan tersebut mengatakan bahwa penelitian jangka panjang yang baru menunjukkan, vaksin tersebut ampuh untuk orang-orang yang pernah terjangkit DB sebelumnya, namun berisiko bagi mereka yang sama sekali belum pernah mengidap demam berdarah.

“Bagi mereka yang sebelumnya belum terinfeksi virus dengue, analisis tersebut menemukan bahwa dalam jangka panjang, berbagai kasus penyakit dapat terjadi setelah vaksinasi dengue,” kata perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Perusahaan tersebut mengatakan akan meminta otoritas kesehatan untuk terus memantau informasi terbaru yang diberikan kepada para dokter dan pasien yang menggunakan dengan vaksin tersebut.(Tri)