Sunday, 17 December 2017

Panglima Hulubalang di Negeri Khayalan

Rabu, 6 Desember 2017 — 7:02 WIB
panglima

KEJADIAN berikut ini, terus terang, hanya terjadi di dunia khayalan. Tidak boleh dipercaya. Kalau perlu jangan dibaca. Tapi, kalau mau nekat membacanya, ya silakan saja. Itu artinya kita sama-sama bersepakat masuk dunia khayalan.

Masuk dunia khayalan itu penuh “kegilaan” yang mengasyikkan, “kegilaan” yang sedang melanda rakyat serta para pemimpin suatu negeri, yang wilayahnya sangat besar, entah di mana.

Alkisah, menurut selentingan, semua rakyat sedang gaduh tentang rencana pergantian seorang panglima hulubalang negara. Dari rakyat sampai para punggawa negara bingung mendefinisikan peran sang hulubalang.

Pada era yang pada banyak hal sudah terjungkil balik, siapa pun bebas berekspresi ke ruang publik, menafsirkan teori A, teori B, teori C, dan seterusnya. Jadilah permainan asumsi demi asumsi. Mereka bermain tarik ulur antara nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru.

Nilai-nilai baru lebih dominan. Tak peduli apakah untuk itu perlu kegilaan atau tidak, yang penting publik melihatnya. Sedangkan kubu nilai-nilai lama, nilai-nilai yang sesuai dengan jati diri bangsa sendiri, sepertinya semakin terdesak. Menjadi orang waras atau biasa saja sudah tidak mungkin bisa menarik simpati publik.

“Ini era global,” kata satu pihak.

“Nilai-nilai global tidak sesuai dengan jati diri bangsa kita,” sahut pihak lain.

Perdebatan yang esensial itu tenggelam oleh drama-drama lain yang tidak penting, kecuali hanya sebagai hiburan. Tak peduli adegan drama itu melanggar norma budaya, tata pergaulan, bahkan norma paling sakral sekalipun: agama. Bahkan, agama pun dijadikan alat untuk mencari simpati publik, atau sebaliknya, dijadikan alat untuk menjatuhkan pihak lain.

Ketika ada kaum agamis benar-benar sedang berupaya membangun dan memelihara kesadaran kolektif demi terjaganya kerukunan bangsa, banyak pihak curiga, “Itu pasti untuk kepentingan politik.” Tudingan ini, agaknya, terjadi mengingat ada kelompok lain, yang sama-sama agamis, memiliki agenda lain yang bisa merusak kerukunan dan keutuhan negara.

“Panglima hulubalang harus diganti. Gila! Dia sudah ikut bermain politik,” teriak entah siapa.

“Buat apa diusulkan untuk diganti? Memang sudah saatnya pensiun, kok,” timpal yang lain, juga entah siapa.

Ah, dunia khayalan memang seru. – yuwono