Sunday, 17 December 2017

BPJS Kesehatan Jadi Tekor Karena Klaim ‘Kelas Berat’

Kamis, 7 Desember 2017 — 6:50 WIB
pasien

MENJADI peserta BPJS Kesehatan sebetulnya tak ubahnya orang ikut arisan nasional. Penyakit berat jadi murah biaya karena dibantu banyak orang. Sayangnya begitu banyak orang klaim penyakit “kelas berat”, hingga akhir tahun 2017 ini BPJS tekor dana Rp9 triliun. Untung pemerintah tetap tanggungjawab.

Dirut BPJS Kesehatan Fahmi Idris pernah mengibaratkan, anggota BPJS Kesehatan itu seperti peserta arisan nasional. Meski penyakit pasien berat, tapi karena biayanya ditanggung banyak orang, menjadi ringan. Maksudnya, iuran anggota yang tak kena penyakit itu bisa dimanfaatkan untuk membiayai pasien “kelas berat”.

Celakanya, tidak semua anggota masyarakat menyadari pentingnya BPJS Kesehatan itu. Buktinya, dari target 201 juta peserta hingga kini baru masuk 181 juta jiwa. Itupun yang 10 juta mogok iuran. Banyak juga orang masuk BPJS hanya ketika divonis dokter berpenyakit “kelas berat”. Walhasil baru bayar 2-3 kali iuran PPU (Peserta Penerima Upah) sudah klaim ratusan juta. Bagaimana tidak tekor?

Penyakit “kelas berat” itu biasa disebut katastropik, seperti halnya: jantung, ginjal, kanker, stroke, talasemia, leukimia, sirosis hepatitis, dan hermofilia. Ini biayanya bisa mencapai ratusan juta. Buat orang miskin bukan anggota BPJS Kesehatan, paling-paling pasrah, siap mati kapan saja dan di mana saja.

Kata Dirut BPJS Fahmi Idris, 20 % anggaran selama ini tersedot untuk klaim penyakit “kelas berat” tersebut. Pihaknya pernah mengusulkan agar ditempuh “cost sharing”, artinya pasien ikut membayar dari klaim. Tapi pemerintah menolak wacana ini. Apapun penyakitnya dan berapa biayanye, tetap ditanggung negara. Dan ini dibuktikan, karena dari ketekoran Rp9 triliun itu akhir November lalu telah ditutup Rp3,6 triliun dulu.

Selama ini pihak RS juga terkesan enggan melayani pasien BPJS Kesehatan. Soalnya mereka harus nalangi dulu dan ketika klaim itu diminta ke BPJS pencairannya lama, bisa berbulan-bulan. Maka banyak RS yang kemudian berbuat nakal. Asal ada pasien peserta BPJS dibilang kamar penuh. Jika ngaku pasien umum, barulah dilayani.
-gunarso ts