Monday, 11 December 2017

KEONG SAWAH

Kamis, 7 Desember 2017 — 4:54 WIB

Oleh H Harmoko

HARGA daging sapi mahal. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyarankan agar masyarakat beralih konsumsi ke komoditas lain yang proteinnya hampir sama seperti daging. Apa? Keong sawah.

Boleh juga ide itu. Ini bisa dianggap sebagai upaya memaksimalkan kekayaan alami Indonesia. Apalagi, katanya, protein keong sawah lebih bagus daripada daging sapi. Untuk mendapatkannya juga tidak sulit. Keong sawah mudah didapatkan di perairan tawar seperti sawah, aliran parit, dan danau.

Pertanyaan muncul. Apa iya ini hanya persoalan wacana menggantikan daging sapi yang mahal dengan daging keong sawah yang mudah didapatkan? Mari kita tengok pengalaman yang sudah-sudah berkaitan dengan lemparan isu. Ketika isu dilempar, selalu ada agenda di baliknya.

Itulah pola perang asimetris yang bersifat ajek, tetap, bahkan berulang. Ingat tebaran isu penyakit Anthrax pada sapi? Setelah isu mencuat, ada langkah berikutnya: daging langka atau daging mahal. Berikutnya, muncul langkah perluasan dan penambahan kuota impor daging.

Begitu halnya ketika isu flu burung ditebarkan, berikutnya muncul kebijakan baru berupa impor daging ayam. Ya, begitulah polanya. Objeknya bisa bermacam-macam. Ada pemain yang mempermainkan ini semua dalam rangka membodohi masyarakat Indonesia.

Pada isu keong sawah yang kini viral, bukan tidak mungkin ini hanya semacam penyesatan informasi untuk agenda lain seperti yang sudah-sudah. Kondisi daging mahal dan oleh karenanya perlu daging pengganti, sangat mungkin ini sebagai penyesatan untuk menuju tahapan berikutnya, ya itu tadi, memperluas atau menambah kuota impor daging.

Siapa yang bermain? Tidak sulit ditebak. Bisa jadi ulah mafia bisnis daging. Untuk menutupi agenda sebenarnya, masyarakat digiring ke isu keong sawah.

Apakah itu berarti akan ada gerakan beternak keong sawah. Belum tentu. Mengapa? Karena ada negara lain melalui jaringan mafianya ingin memasarkan dagingnya ke Indonesia.

Mari kita telisik, negara mana saja yang punya kepentingan untuk memasarkan daging sapinya ke Indonesia? Kita tunggu saja beberapa hari atau beberapa pekan ke depan, apa yang akan terjadi. Alih-alih meningkatkan produksi daging sapi atau menggalakan ternak keong sawah, yang dilakukan ya itu tadi, impor daging.

Kalau sudah begitu, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan. Yang jelas peternak sapi akan tetap gigit jari. Kasihan. ( * )