Thursday, 14 December 2017

Imam Besar Masjid New York Shamsi Ali:

Keputusan Trump Sulut Bara Kebencian Pada AS di Dunia

Kamis, 7 Desember 2017 — 14:16 WIB
Imam Besar Masjid New York Shamsi Ali.(Ist)

Imam Besar Masjid New York Shamsi Ali.(Ist)

AMERIKA SERIKAT – Imam Masjid New York, AS, Imam Shamsi Ali, mengatakan keputusan Trump itu oleh banyak kalangan dianggap sebagai keputusan “reckless” (sangat berbahaya) dan pencabulan nyata kepada upaya-upaya perdamaian.

Padahal, upaya perdamaian  itu telah lama dirintis oleh pejuang perdamaian (peace warriors), seperti Ishak Rabin (Israel), dan Yasir Arafat (Palestina).

Karenanya, Shamsi menegaskan, keputusan ini adalah pelecehan nyata terhadap upaya peradamaian di Timur Tengah.

”Harus disadari, konflik Timur Tengah, Israel-Palestina, menjadi sumber sentimen berbagai konflik di dunia, khususnya antara dunia Islam dan dunia Barat. Kebencian dan permusuhan, bahkan  kekerasan-kekerasan timbul di mana-mana semuanya minimal terinspirasi oleh sentimen konflik Palestina-Israel. Dan salah satu isu terpenting, dan menjadi dasar sentimen agama di kedua belah pihak adalah, isu Jerusalem atau Al-Quds dalam bahasa Arabnya,” jelasnya seperti dilansir Suara.com.

(Baca : Presiden Jokowi Desak OKI dan PBB Bahas Keputusan Presiden AS)

Ia mengkhawatirkan, keputusan Trump itu justru memperdalam permusuhan dan menimbulkan konflik massif di Timur Tengah maupun kawasan lain.

“Donald Trump telah menyulutkan api ke dalam bara kebencian kepada Amerika di mana-mana,” tukasnya.

 Perburuk Citra AS

Selain itu, Shamsi juga menilai keputusan Trump itu justru berdampak buruk bagi AS. Sebab, AS sejak lama dicurigai sebagai “tuan Israel”. Artinya, kebijakan-kebijakan buruk pemerintahan Israel dinilai sebagai bagian dari kebijakan Amerika.

Bahkan, kata dia, ada kecurigaan jika ekspansi Amerika ke Timur Tengah tujuannya adalah melapangkan jalan bagi Israel untuk semakin melakukan apa saja terhadap negara-negara tetangganya.

“Dengan keputusan Trump ini, kecurigaan itu seolah menjadi bukti nyata. Bukan lagi kecurigaan tapi telah terjadi di depan mata, bahwa Amerika memang selalu menjadi bemper kepentingan Israel,” terangnya.

“AS akan menjadi ”bulan-bulanan” kebencian dan kemarahan dunia Islam, dan  pada akhirnya masyarakat Amerika secara luas akan menjadi korban, demi ambisi Donald Trump untuk memuaskan segelintir pendukungnya,” ungkapnya.(Tri)